horizontal banner

Friday, 23 March 2018

Anak Mendidik Diri Sendiri ( "Self Education" )


Saat membantu anak mengerjakan PR, biasanya anak akan menghadapi pertanyaan-pertanyaan berbentuk esai terkait dengan topic yang baru ia pelajari, atau pertanyaan berbentuk pilihan berganda, atau juga anak disuruh mengisi titik-titik.

Atau bagi kita yang berprofesi sebagai guru, tidak asing lagi bagi kita untuk selalu mempersiapkan banyak hal sebelum kita mengajar kelas, baik itu kelas besar maupun kelas kecil. Mulai dari mempersiapkan alat peraga, bahan/ materi pelajaran yang disajikan semenarik mungkin, sampai mempersiapkan pertanyaan-pertanyaan untuk kita ajukan pada murid. 

Namun saat saya berkenalan dengan tulisan sosok pendidik legendaris Inggris, Charlotte Mason (CM), untuk pertama kalinya saya berkenalan dengan istilah “self-education”, atau “mendidik atau mengajar diri sendiri”. 

Menurut CM, saat anak manusia lahir, ia telah memiliki otak yang sempurna. Pengertian otak yang sempurna disini adalah bahwa otak tersebut telah sempurna untuk menelaah atau mencerna apa yang perlu ditelaah/dicernanya. Sama seperti saat lahir, seorang bayi telah memiliki organ pencernaan yang “sempurna” untuk mencerna ASI dan saat bayi berumur 6 bulan maka organ pencernaan bayi telah “sempurna” untuk mencerna makanan pendamping ASI, maka demikianlah dengan otaknya. Otaknya telah sempurna adanya.  Bedanya adalah, organ pencernaan berfungsi untuk mencerna makanan bagi fisik manusia, mulai dari karbohidrat, lemak dan lain-lain, sedangkan otak berfungsi untuk “mencerna” makanan bagi jiwa manusia. Ups, makanan bagi jiwa?

Sebagaimana tubuh/ fisik manusia membutuhkan makanan, demikian pula dengan jiwa manusia. Jiwa manusia membutuhkan “makanan”. Dan menurut CM, “makanan” bagi jiwa manusia adalah ide-ide atau gagasan-gagasan. Baik itu intelektual maupun karakter manusia, terbentuk dari ide-ide yang masuk ke dalam otak maupun jiwanya. Eksperimen science, keindahan alam, studi alam, gerakan ritmis, pelatihan sensorik, penemuan-penemuan, cerita-cerita yang didengar, cerita-cerita tradisi keluarga, filosofi, semua ini akan melahirkan ide-ide di benak manusia. Dan kesemua hal di atas dapat tercakup di dalam benda yang bernama buku. Itu sebabnya mengapa tidak ada hal lain yang dapat menyediakan ide secara berlimpah kepada manusia selain buku, termasuk e-book (kalau jaman sekarang hehehe…). Ide-ide terhebat dan terluhur dari orang-orang terhebat dan terluhur di dunia ini dapat kita akses melalui buku.  Hanya dengan menyajikan buku-buku terbaik bagi anak-anak kita (termasuk bagi diri kita sendiri), maka jiwa kita, juga intelektual kita, akan “dikenyangkan”. 

Saat kita sebagai guru maupun orangtua, mampu menyajikan anak buku-buku terbaik bagi anak-anak, maka dengan sendirinya, otak anak akan mencernanya sesuai dengan kapasitasnya yang luar biasa, dan jiwa dan intelektual anak akan mendapatkan ide-ide yang dibutuhkannya untuk “mengenyangkannya”. Jadi disini tugas orangtua dan guru hanyalah menyajikan buku-buku tersebut secara teratur. 

Anak-anak kita memiliki otak dan pikiran yang luar biasa. Sesungguhnya saat kita menyajikan mereka buku-buku yang terbaik, maka kita sebagai guru maupun orangtua tidak perlu lagi memberi mereka pertanyaan-pertanyaan untuk menguji pemahaman mereka baik itu dalam bentuk esai, pilihan berganda maupun mengisi titik-titik. Karena sesungguhnya hal ini sama dengan kita hendak menguji apakah otak anak telah berfungsi sebagaimestinya. Ibaratnya, apakah kita sebagai orangtua perlu memastikan apakah organ pencernaan anak telah berfungsi dengan baik? Tentu tidak. Tugas kita hanyalah memberikan anak makanan yang sehat, bukan malah makanan instan misalnya. 

Dan saat kita menyajikan mereka buku-buku yang terbaik, maka anak-anak otomatis akan memberikan perhatian, menunjukkan minat, mau berkonsentrasi, tanpa guru atau orangtua harus bersusah payah menuntut anak untuk menyukai buku pelajaran/ buku bacaan mereka. Dan juga dengan cara belajar seperti ini, anak-anak akan mampu mengekspresikan diri mereka dengan bahasa yang baik dan kosakata yang kaya. Anak-anak juga cenderung menjadi lebih tenang/ stabil dan karakter merekapun akan terdidik. Dan yang tak kalah ajaibnya, anak-anak juga akan mencintai buku mereka (tidak hanya buku cerita!), dan mereka akan suka belajar! Dan saat mereka mencapai tahap ini, tak perlu lagi guru ataupun orangtua menstimulasi keinginan belajar mereka dengan hadiah, nilai dan lain-lain!

Dengan cara seperti ini, anak-anak tidak akan terlalu bergantung pada keberadaan sosok guru yang harus bersusah payah menyediakan alat peraga, materi dengan tampilan yang menarik dan lain-lain. Anak-anak akan mampu “mendidik” diri mereka sendiri melalui buku-buku terbaik yang disajikan bagi mereka. Melalui cara seperti ini, kita sebenarnya sedang membimbing anak-anak kita agar mereka memiliki motto hidup, “I am, I can, I ought, I will” (“Aku sebagaimana aku, aku bisa, aku wajib, aku akan”). Dengan moto seperti ini, mereka belajar menjadi anak-anak yang mengetahui nilai diri mereka, dan memahami kapasitas, kewajiban serta memiliki kehendak yang kuat untuk melakukan kewajiban mereka. Hal ini berkebalikan dengan hanya melakukan apa yang mereka sukai.

Esensi  pendidikan menurut CM adalah bagaimana menarik perhatian anak didik, membangun minatnya, membangun gayanya dalam bertutur kata dengan kosakata yang kaya, membangun rasa cinta pada buku dan meningkatkan kemampuannya berbicara. Dan pendidikan menurut CM sama sekali tidak cukup apabila hanya menyentuh intelektual seseorang namun tidak menyentuh jiwanya! Seorang anak yang membaca buku pelajarannya hanya demi mendapatkan nilai bagus mungkin  mampu menghafal begitu   banyak fakta, namun ia tidak akan benar-benar paham. Bukankah tujuan pendidikan adalah bukan semata-mata untuk intelektual, melainkan juga untuk membentuk anak-anak menjadi manusia-manusia yang memiliki kemampuan, anak-anak yang berbakti, paham akan kewajiban mereka serta mampu berpikir secara obyektif serta terus mau belajar? Dan saat sebagai guru dan orangtua menyajikan mereka buku-buku terbaik secara berlimpah, maka kita dengan leluasa akan menjadi mentor, pembimbing dan teman mereka, tanpa harus menjejel mereka dengan fakta-fakta berjubel secara dipaksakan. Disinilah maksud dari anak-anak kita mampu “mendidik/ mengajar” diri sendiri, atau “self-education” melalui buku-buku terbaik yang disajikan bagi mereka.

Sumber : Disunting bebas dari buku The Original Home Schooling Series by Charlotte Masson Volume 6 Book 1 Chapter 1.

Thursday, 28 September 2017

Nature Walk: Di Sekitaran Rumah

2 hari yang lalu, bersama duo krucil, saya mencoba untuk mengamati bebungaan di sekitar tempat kami tinggal.. Lagi semangat-semangatnya nih, soalnya baru beli lensa macro harga ceban-an dari internet hehehe..





Jengger Ayam

Rosa Sun Flare

Apa ini White Colored Daisy?





Lantana

Passion Flower
They are so pretty, huh?

Thursday, 7 September 2017

Temu Raya Praktisi Charlotte Mason di Kopeng, Salatiga: Sebuah Refleksi

Tepat seminggu lalu, kami sekeluarga mengikuti acara Temu Raya Praktisi Charlotte Mason di Kopeng, Salatiga selama 4 hari. Sekitar 15 keluarga berkumpul di acara workshop para praktisi filosofi pendidikan Charlotte Mason, seorang pendidik terkemuka asal Inggris. Dan ini adalah untuk pertama kalinya acara semacam ini diselenggarakan di Indonesia. Sebelumnya, kami para praktisi hanya saling bertemu dan belajar melalui dunia online. 


Kami sebagai keluarga yang menerapkan metode belajar homeschooling atau home education bagi anak-anak kami, Yosua (hampir 10 tahun) dan Ester (6 tahun), memang memilih untuk menjalani filosofi/ metode Charlotte Mason sejak sekitar 4 tahun yang lalu. Namun memang selama ini kami hanya membaca mengenai filosofi/ metode ini terutama dari buku Cinta Yang Berpikir-nya Mba Ellen Kristi, dari 6 volume tulisan Charlotte Mason (tentu belum seluruhnya, melainkan baru sebagian kecil saja yang sudah selesai dibaca) dan tulisan beberapa praktisi dari manca negara. Jadi acara temu raya kali ini adalah yang perdana di Indonesia, dan saya sangaaat bersyukur akhirnya bisa bertemu dengan sesama praktisi dari berbagai daerah, mulai dari Jakarta, Semarang, Salatiga, sampai Malang, bahkan Balikpapan dan Aceh :-) Kami juga sangaaat bersyukur karena kedatangan narasumber yang sangat capable dan kaya pengalaman asal Amerika Serikat, Kathy Hoeweler. Beliau adalah praktisi filosofi Charlotte Mason sejak kurang lebih 20 tahun yang lalu. Selain itu, profesi beliau sendiri adalah seorang pendidik profesional baik itu di sekolah formal maupun di komunitas-komunitas homeschooling


Sejak awal, saya langsung jatuh cinta dengan filosofi pendidikan Charlotte Mason (selanjutnya saya singkat "CM") akibat slogan pendidikan berbasis karakternya, yaitu bahwa "Education is an atmosphere, education is a discipline, education is a life." Ho..ho..ho..berat yaa topiknya...Pembahasan detil mengenai slogan ini mungkin akan saya tulis di artikel lain yaa..Dan saat mempelajari filosofi ini juga, untuk pertama kalinya saya berkenalan dengan living books yang adalah kebalikan dari buku-buku twaddle. Saya sudah pernah bahas mengenai living books di blog ini. Saya juga berkenalan dengan indahnya berpetualang bersama anak melalui nature walk dan nature study, juga melalui subyek-subyek "mata pelajaran" lain yang sungguh menarik dan tidak pernah saya dengar sebelumnya saat saya di bangku sekolah dulu.

Meskipun sudah merasa paham dengan filosofi dan metode ini, ternyata sepulang dari acara 4 hari kemarin, paradigma saya benar-benar dirombak total. Selama 4 hari disana, slogan-slogan CM ini terus muncul di kepala saya: "Children are born persons.."; "Less is more.." ; "Education is an atmosphere, a discipline, a life..". Bahkan yang sangat melekat di hati saya, saat Kathy di kelas bercerita bahwa saat salah 1 guru meminta CM untuk memberitahukan bagaimana cara mengajar, CM meresponnya dengan berkata, "Sayang, pertanyaannya seharusnya bukan 'Bagaimana cara mengajar', lebih tepatnya adalah 'Bagaimana cara hidup' " ... " Eng ing eng...dalem bangeeet...

Anywayz, intinya selama 4 hari ini saya sangat "tertampar"..saya betul-betul tersadarkan bahwa selama hampir 4 tahun ini saya menjalankan metode CM ini lebih untuk memenuhi ego saya, bukan demi anak..padahal acara ini terus mendengungkan betapa pentingnya humility..humbleness..pentingnya keinginan untuk terus belajar..pentingnya respect terhadap anak..setiap anak unik..dengan kelebihan dan kekurangannya..selama ini ternyata saya terlalu terpaku pada pemenuhan "target belajar" yang ada di http://www.amblesideonline.org .. saya lupa, bahwa jadwal belajar yang ada disitu sebenarnya sama sekali bukan untuk diikuti secara kaku..daftar buku/materi yang ada pun sama sekali bukan untuk diikuti dengan rigid..saya selama ini terpaku pada "how" dan "what"..saya lupa bahwa "why" lah yang seharusnya menjadi landasan proses homeschooling anak-anak..filosofi CM lah yang seharusnya menjadi pegangan kami saat belajar bersama anak-anak..target pemenuhan materi belajar tidak seharusnya mendominasi hari-hari belajar kami... Wowwwww, sungguh mencerahkan! Beban yang begitu berat rasanya langsung terangkat dari pundak kami...

Sebelumnya demi memenuhi target belajar seperti di sekolahan, Yosua bisa belajar Matematika dalam 1 hari sampai 1,5 jam lebih.. Sebelumnya, Yosua yang belum fasih berbahasa Inggris, saya "paksa" untuk menarasikan cerita-cerita "seberat" Pilgrim's Progress dan Burgess Animal dalam bahasa Inggris..dan menjadi bertambah berat mengingat buku-buku yang kami pakai adalah buku-buku yang memang unabridged...Namun setelah mengikuti acara 4 hari ini, saya langsung dapat membedakan mana yang sebenarnya adalah "demi ego emaknya", dan mana yang "demi anak"..sepulang dari Salatiga, kami lebih fleksibel dalam hal durasi belajar kami..yang sebelumnya Yosua bisa sampai nangis-nangis bahkan sedikit "tantrum" saat belajar karena saya "paksa" memenuhi target belajar harian, kali ini kami akan berhenti belajar bahkan sebelum Yosua menunjukkan tanda-tanda bosan/ lelah. Yang sebelumnya Yosua kadang "stres" karena kosakata bahasa Inggris sulit keluar dari mulutnya, kali ini saya kasih kebebasan untuk memilih apakah hendak bernarasi dalam bahasa Inggris atau Indonesia. Alhasil, baru beberapa hari sejak kami pulang, proses homeschooling kami dan hubungan kami sebagai orangtua dan anak sudah sangaaaaat jauh lebih menyenangkan dan nikmat rasanya. 

Benar-benar jawaban doa. Thank You, Father.. Thank you buat my hubby.. Thank you buat my parents yang ikut terjun langsung dalam proses homeschooling cucu-cucunya.. And special thank you buat teman-teman seperjuanganku, para praktisi CM..love you all and see you guys next year in Batu, Malang, God's willing!
 

Sunday, 28 May 2017

Kampus UI Depok dan Hutan UI

Beberapa minggu lalu kami jalan-jalan ke kampus UI Depok..tujuan utama sebenarnya Hutan UI, tapi bolehlah lihat-lihat kampus di sekitar hutan sekalian nostalgia jaman kuliah dulu hihihi.. Ini hasil temuan kami! :-)

Jati Londo

Kelapa Gading Kuning

Bintaro

Aren

Bungur

Jambu Lilin



Karet



Saga



Masuk hutan UI, eh nembusnya disini ternyataa :-)



Jambu Apel


Sunday, 27 September 2015

Jalan-Jalan Backpackeran Keluarga : OASE Backpacker Family (part 1 of 4)

Kemarin kami baru saja pulang dari Jawa Tengah dalam perjalanan bersama rombongan selama 7 hari Jakarta-Semarang-Yogya-Temanggung-Salatiga-Jakarta.Perjalanan yang sungguh menarik buat saya pribadi dan kedua anak kami, Yosua dan Ester (8 tahun dan 4 tahun). Selain karena perjalanan ini bisa dikatakan sebagai perjalanan backpacker-an alias nomaden dengan biaya seirit mungkin (naik kereta ekonomi, di mobil berhimpit-himpitan bahkan ada yang tanpa AC, dan ramai-ramai menginap di 1 rumah yang sama), yang juga membuat perjalanan ini menarik adalah karena perjalanan ini dilakukan bersama rombongan Klub Oase, sebuah komunitas keluarga dimana para orangtuanya tidak menyekolahkan anak-anaknya di sekolah formal, melainkan bahasa kerennya sih: homeschooling. Sekitar 10 keluarga, dengan beraneka latar belakang, menempuh perjalanan yang bertajuk "tour the talent". Maksudnya adalah, para orangtua yang tidak menyekolahkan anak-anaknya ini ingin belajar dari para "talent" atau "expert" yang tersebar mulai dari Semarang, Jogya, Temanggung, hingga Salatiga. Dan efek sampingnya tentu saja, anak-anakpun ikut-ikutan belajar mulai dari belajar ilmu yang dibagikan para expert hingga belajar bersabar karena harus mengantri sebelum masuk ke kamar mandi (maklum, 3 malam terakhir kami ber-40 harus bergantian menggunakan 1 kamar mandi :-) ).

Sekitar 2 minggu sebelum hari H, kami para peserta sudah heboh baik itu di forum sosmed maupun persiapan masing-masing di rumah. Berhubung ini pengalaman backpacker-an saya dan anak-anak yang pertama (sayang suami tidak bisa ikut karena tugas kantor), saya beberapa kali mengingatkan anak-anak di rumah bahwa perjalanan ini tidak akan menjadi perjalanan yang nyaman mengingat jenis transportasi maupun akomodasi yang sudah ditetapkan.  Namun saya dan suami juga katakan kepada mereka bahwa kami para orangtua maupun anak-anak akan belajar banyak hal disana yang belum tentu dapat dipelajari di Jakarta. Misalnya belajar makan makanan seadanya yang disediakan tuan rumah, belajar toleransi terhadap kebiasaan/ kekurangan orang lain, maupun belajar beradaptasi dengan lingkungan baru.

Dan sebenarnya rencana perjalanan ini dilakukan begitu spontan alias dadakan :-) Berawal dari beberapa teman kami yang tengah membicarakan satu tempat di Salatiga, tempat tinggal salah satu teman kami juga, lalu pembicaraan berkembang menjadi rencana berkunjung kesana, lalu berkembang lagi hingga rencana mengunjungi beberapa tempat di beberapa kota sekaligus, memanfaatkan networking teman-teman yang ada :-) #dasar nggak mau rugi hehehe.. Dan yang lucu, sebenarnya beberapa hari sebelum keputusan rencana backpacker-an ini dibuat, kami semua baru saja pulang dari acara Fesper2015 alias Festival Pendidikan Rumah selama 3 hari 2 malam di Cibodas..jadi judulnya nih, buat kami dan sebagian keluarga lainnya, kantong lagi bokek dan belum kebayang untuk melakukan perjalanan keluar kota dalam waktu dekat..Eeh nggak disangka-sangka, justru konsep perjalanan backpackeran dan uncomfortable journey yang "di-blast" teman-teman di group whatsapp malah menjadi magnet yang begitu kuat menarik hampir 50% dari teman-teman Klub Oase untuk bergabung dalam perjalanan 7 hari berguru pada para "talent" yang tersebar di Jawa Tengah :-) Bahkan tidak tanggung-tanggung, hanya dalam waktu sekitar 3 hari sejak pertama kali pengumuman rencana perjalanan ini di-blast, sebelum pendaftaran ditutup, tidak kurang dari 40 orang (dewasa dan anak-anak) telah memutuskan untuk bergabung! Dan di antaranya adalah 4 balita dan 1 bayi berumur 8 bulan!! :-)

Dan tibalah hari yang ditunggu-tunggu. Kereta kami dijadwalkan berangkat dari Stasiun Pasar Senen pada Kamis, 17 September 2015 pk. 23.00 dan tiba di Stasiun Semarang Poncol pada pk. 6.00. Anak-anak kami pun tidur hampir selama perjalanan di kereta (maksudnya yang balita yang cepat tidur.. kalau yang anak-anak besarjangan ditanya: mereka nggak bakalan tidur kalau nggak dipaksa :-) ). Berhubung kursi kereta ekonomi tidak bisa "reclined", sayapun mengikuti jejak para orangtua lain untuk selonjoran di bawah beralaskan koran. Ini juga saya lakukan agar anak-anak bisa bebas selonjoran di bangku mereka.

Tiba di Stasiun Semarang Poncol

Saat tiba di semarang, kami dijemput oleh tim Pak Ilik Sas, tuan rumah yang akan menjamu dan berbagi ilmu pada kami selama kami di Semarang dari pagi hingga sore hari. Saat tiba di rumah beliau, sarapan pagi khas Jawa Tengah dan matras-matras yang disusun rapi telah menyambut kami :-)  Kamipun bebas beristirahat dan menyantap sarapan yang disajikan. Sekitar pk. 9.30 kamipun mendengar Pak Ilik berbagi mengenai jaringan yang dibentuknya: Jaringan Rumah Usaha (JRU).  Ternyata  usaha beliau antara lain adalah bidang graphic design , dan selain itu misi beliau adalah mengajak pemuda-pemuda yang sebelumnya "bermasalah" untuk "memulai hidup baru" dengan jalan menggali potensi diri untuk kemudian memulai usahanya dan berkontribusi bagi diri sendiri dan orang lain. Dan teman-teman yang sebelumnya "bermasalah"pun telah mampu menunjukkan potensi diri dan bermanfaat bagi banyak orang. Seperti salah satu pemuda yang sebelumnya narkoba namun sekarang telah lepas dari itu dan dapat menciptakan passive income dari karya-karya musiknya yang dapat dinikmati oleh pasar dari seluruh dunia melalui media internet. Dan pemuda lainnya memiliki kemampuan membuat presentasi powerpoint yang menarik sehingga iapun menjual jasa pembuatan presentasi dari klien-kliennya yang sebagian besar adalah berasal dari luar negri. Dan tidak hanya para pemuda yang berhasil membangun usahanya dan mengubah nasib hidupnya, seorang wanita lumpuh juga tidak tenggelam dalam keterpurukan melainkan mampu menggali potensinya. 

Mendengar presentasi dari Tim JRU



Bersama Pak Ilik sekeluarga

Setelah sesi berbagi pagi itu yang kemudian dilanjutkan acara makan siang (mulai dari pagi hingga siang, makanannya berlimpah euyy.. ). Anak-anak asyik bermain sejak pagi, mulai dari bermain perang-perangan dengan bantal matras (menggunakan satu ruangan besar yang setelahnya digunakan untuk sesi sharing pagi hari) hingga sekedar selonjoran di matras sambil menggambar, bermain origami, maupun bermain video games.

Ester bareng teman2nya: Yanthi dan Dotie

Yosua menggambar ditemani Abi, temannya


Dan setelah makan siang, kamipun pergi menuju Plasa Telkom, hendak berpartisipasi dalam acara forum wedangan yang merupakan forum rutin JRU 3 bulanan. Forum kali ini mengambil tema "Rumahmu, Mentalmu", dengan pembicara Mas Aar Sumardiono dan Mira Julia, Mba Septi Peni Wulandari serta Bp. Prie G.S. Para pembicara berbicara mengenai pandangan mereka mengenal pilihan mereka untuk tidak menyekolahkan anak-anak mereka di lembaga sekolah formal. Yang paling seru adalah pembicara yang terakhir, karena disini dengan gayanya yang penuh banyolan dan sindiran yang provokatif namun sangat menggelitik, beliau mampu membuat kami para orangtua homeschooler bercermin pada diri sendiri. Mulai dari kisah beliau yang kaget bukan kepalang saat anaknya memberitahukan nilai matematikanya yang di bawah nilai 5 namun beliau berusaha sekuat tenaga untuk tetap tersenyum dan menerima "apapun" yang disuguhkan si anak (sebelum memutuskan untuk homeschooling, anaknya sempat bersekolah di sekolah formal), sampai kisah  leganya beliau saat anaknya tidak lagi belajar di sekolah formal namun berubah galau saat melihat anaknya yang masih tidur tatkala beliau berangkat kerja dan juga tetap tidur saat beliau pulang kerja (beliau jadi berpikir, "Jangan-jangan anakku bisanya tidur doang..!? :-) ). 

Yang sungguh menarik dari acara forum ini adalah Pak Ilik selaku pembawa acara begitu santai dengan gaya berbicaranya yang didominasi dengan bahasa Jawa..dan beliaupun memberi kesempatan bagi para audience untuk memperkenalkan diri mereka: mulai dari kami, lalu teman-teman dari komunitas wirausahawan perempuan, hingga teman-teman dari komunitas jazz di Jawa Tengah..Dan gaya mereka memperkenalkan diripun begitu santai, masih diwarnai dengan bahasa Jawa, dan ditanggapi oleh Pak Ilik dengan gaya khas nya yang penuh canda..ditambah lagi acara forum ini diwarnai dengan nampan-nampan penuh cemilan khas Indonesia yang berlimpah :-) Wooww, pengalaman pertama nih ikutan forum dengan pembicara keren-keren, suasana forum yang kekeluargaan ditambah cemilan berlimpah :-D

Pak Prie G.S   berbagi pengalamannya sebagai ortu homeschooler: kocak bingits!!


Lucunya lagi, karena Klub Oase hadir dengan sekitar 20 anak dimana lebih dari setengahnya masih di bawah 9 tahun, jangan heran kalau melihat anak-anak berseliweran di dekat panggung, malah beberapa anak (termasuk anakku!!! :-) ) nampak tidur-tiduran di dekat podium dengan beralaskan bantal! Walah, nggak tahu harus kesal atau bangga melihat anak sendiri tidur di dekat podium di acara forum sekeren ini :-)  Sementara selama 2 jam acara ini, anak saya yang bungsu (4 tahun) tidur pulas di atas kursi dengan kepala di pangkuan saya. Oya, yang juga keren dari acara ini adalah adanya band yang sesekali membawakan lagu-lagu penyemangat sesuai dengan tema forum kali ini yang ingin menyemangati para orangtua untuk senantiasa menjaga atmosfir di rumah agar terus berperan sebagai surga dunia :-)

Acara forum selesai pada pukul 6 sore, dan perjalanan kamipun dilanjutkan dengan makan malam dan pergi menuju Jogya untuk menginap di rumah salah satu teman kami, Pak Yanuar Nugroho dan Mba Dominika Oktavira Arumdati (Mba Ira). Dan kami tiba di rumah Mba Ira hampir tengah malam, dan saat kami tiba disana, wooowww...i REALLY like this place!! Rumahnya kereeeeen banget...eksterior maupun interiornya kereeeen banget..kalau kata seorang teman: persis kayak rumah-rumah di Eropa yang berlorong-lorong :-) Ditambah teman kami ini sangat environment-friendly.. tidak heran rumah ini memiliki banyak bukaan sehingga pada siang hari cahaya matahari yang masuk ke dalam begitu berlimpah sehingga hampir sama sekali tidak memerlukan lampu sebagai penerangan di siang hari :-) Hebatnya, di depan rumahnya terpapar sawah seluas berhektar-hektar sebagai lahan beliau menanam padinya sendiri. Dan teman kami ini juga tidak menggunakan sabun dan syampo konvensional untuk kesehariannya, melainkan menggunakan lerak untuk mencuci piring dan menggunakan bahan-bahan alami lainnya sebagai pengganti sabun dan syampo :-)

Bagaimana kisah seru sebangun tidur di hari berikutnya? 

Bersambung...