horizontal banner

Sunday, 30 October 2011

Tidur Penting Banget Buat Anak!

Tidur penting banget buat anak. Saking pentingnya, tidur dimasukkan dalam "kurikulum pendidikan" yang harus orangtua terapkan di rumah. Begitu kata Dr. Chris Idzkiwoski, ahli masalah tidur dari The Edinburgh Sleep Centre.

1. Tidur dan proses belajar

Tidur penting dalam proses belajar. Dengan cukup tidur, kemampuan menghafal dan konsentrasi belajar akan meningkat. Dalam tidur ada proses konsolidasi memori, artinya saat tidur semua ingatan anak pada saat itu akan diproses sehingga mudah dikeluarkan saat dibutuhkan kembali. Tidur juga meningkatkan kreativitas dan kemampuan analisis anak. Hormon-hormon yang bermanfaat untuk meningkatkan kualitas dan efisiensi kerja otak aktif diproduksi saat anak sedang tertidur pulas. Kondisi tersebut memungkinkan sel-sel saraf merakit pengetahuan yang permanen sifatnya.

2. Tidur dan kebugaran

Berdasarkan penelitian, selama tidur semua sel tubuh (termasuk sel otot, hati, ginjal, tulang sumsum dan sel otak) mengalami pemulihan. Dengan demikian, anak akan lebih bersemangat dalam beraktivitas. Selain itu, hormon kortisol, yaitu hormon yang membantu anak menghadapi stres dan mengurangi kepenatan, mencapai titik tertinggi sejak tengah malam hingga pagi dini hari. Jadi tidak heran jika anak akan tampak loyo apabila jam tidur malamnya kurang.

3. Tidur siang tidak kalah penting

Tidur siang juga tidak kalah penting lhoo Bu, Pak..terutama bagi bayi dan balita (sebagian besar anak akan berhenti tidur siang setelah berusia 5 tahun ke atas). Manfaat tidur siang yaitu:
a. Membantu agar anak tidak terlalu lelah yang bisa membuat anak rewel
b. Membuat otak kembali segar
c. Memberikan tubuh anak kesempatan untuk beristirahat.

Agar anak kita mudah tidur siang, yang dapat kita lakukan antara lain:
a. Memberikan makanan yang mengandung serotonin, seperti pisang, susu dan yoghurt.
b. Ciptakan suasana nyaman dan tenang.
c. Hindari makan terlalu banyak sebelum tidur, karena jika sistem pencernaan bekerja terlalu keras maka justru dapat mengusir kantuk.

Yuk, kita galakkan lagi jadwal tidur teratur buat anak-anak kita tercinta! :)


Sumber: Nakita No. 645/TH. XIII/8 - 14 Agustus 2011 halaman 24-25

Wednesday, 26 October 2011

Latih Anak Tidur Sendiri

Tidur itu penting, ya buat orang dewasa, apalagi untuk anak-anak. Dengan kwalitas tidur yang baik, tentu akan berpengaruh ke vitalitas fisik anak, sehingga juga akan berdampak positif ke rasa percaya diri anak. Dengan rasa percaya diri yang tinggi, anak akan mampu berkreasi, berinovasi, dan berani untuk melangkah menuju kesuksesan dalam hidupnya. 

Dalam artikel yang saya baca di www.sekolahorangtua.com , terdapat beberapa kasus dimana anak yang memiliki kwalitas tidur yang buruk, dapat berdampak buruk pada rasa percaya dirinya, sehingga tak jarang berakibat tidak baik pada prestasinya di sekolah. Selain itu, juga dapat mengakibatkan anak mudah gelisah, temperamental dan emosi negatif lainnya.

Salah satu hal yang dapat menyebabkan anak memiliki kwalitas tidur yang tidak baik adalah perubahan tidak wajar dari yang sebelumnya tidur bersama orangtua menjadi harus tidur sendiri. Yang saya maksud dengan "tidak wajar" disini adalah perubahan yang berlangsung terlambat, mendadak dan tidak kondusif. Contoh: anak remaja yang selama 15 tahun hidupnya tidur bersama ibunya dan kemudian secara mendadak harus jauh dari sang ibu dan tidur bersama temannya di kamar asrama, besar kemungkinan akan mengalami tidur yang tidak nyenyak. Kasus yang lain, anak kelas 4 SD yang biasanya selalu tidur bersama kedua orangtuanya, ketika mendadak disuruh tidur sendiri, mengakibatkan prestasi di sekolahnya menurun lantaran susah tidur sehingga tidak memiliki istirahat yang cukup.
Untuk mencegah hal-hal di atas, yang dapat kita lakukan untuk melatih anak-anak kita tidur sendiri adalah:

•Pertama-tama anak harus mengetahui bahwa ia akan tidur sendiri tanpa ayah atau ibu di sampingnya. Hal ini penting agar anak tidak selalu berharap bahwa orangtuanya akan selalu ada di sampingnya. 

•Temani ketika anak akan beranjak tidur. Sebaiknya kita ceritakan dongeng ataupun cerita bermoral lainnya sebelum anak kita tidur. Konsistenlah dalam hal berapa lama kita akan mendongeng setiap kali anak hendak tidur, sehingga hal ini akan menjadi sebuah rutinitas menjelang tidur yang sehat.

•Kita dapat tetap berada di kamar anak sampai ia tertidur, namun pastikan kita tidak melakukan kontak fisik dan kontak mata dengannya (kecuali ketika masih mendongeng). Bila perlu, Anda mengambil jarak dari ranjang anak. 

•Jika anak menangis dan mendekati Anda, angkat dan tidurkan di tempat tidur, kemudian Anda kembali pada posisi semula, demikian seterusnya. Jika Anda konsisten dan tegar, maka jeda waktu menemani anak sampai tidur, akan semakin sempit, artinya, anak akan semakin mudah tidur, hingga akhirnya Anda tidak perlu lagi harus menunggui lama di kamarnya. 

Tidak mudah memang melatih anak untuk tidur sendiri. Sesungguhnya, melatih anak tidur sendiri sama dengan melatih diri kita sendiri. Mengapa? Karena tidak jarang dalam kasus-kasus orangtua yang tidur bersama anaknya, sesungguhnya orangtualah yang memang ingin terus tidur bersama anaknya. Mereka susah untuk "melepas" anak-anak mereka untuk lebih mandiri. Jadi kita sebagai orangtua perlu mengingatkan diri sendiri bahwa anak tidak akan selamanya bersama dengan kita, sehingga kita akan lebih "menerima" bahwa sangatlah penting untuk melatih anak tidur sendiri.

Satu hal yang perlu diperhatikan bahwa ketika kita melatih anak tidur sendiri, jangan ciptakan kesan bahwa hal itu kita lakukan karena kita tidak ingin terganggu oleh si anak, namun, ciptakan kesan bahwa Anda sedang menghargai privacy si anak. Kesan bahwa pemisahan tidur sebagai alasan agar orangtua tidak terganggu akan menyebabkan anak merasa “diabaikan”, dan ini akan semakin menyulitkan proses pelatihan. 

Jadi para orangtua, belum ada kata terlambat, yuk kita latih anak-anak kita untuk tidur sendiri secara bertahap!

Monday, 24 October 2011

Asuh Anak: Ujian Setiap Hari (2)

Nah, ini kelanjutan dari artikel saya "Asuh Anak: Ujian Setiap Hari (1)"...

1. Balaslah "kejahatan" dengan kebaikan..

Ketika anak saya memperlihatkan kelakuan yang seolah-olah "membangkang", saya pernah meresponnya baik dengan cara "keras" juga maupun dengan cara sesuai point no.1 ini. Ternyata memang seringkali pendekatan point no.1 inilah yang sering membuahkan hasil positif, tanpa penyesalan di kemudian hari karena telah melukai hati anak terutama ketika kita marah-marah tanpa kontrol yang baik. Memang tidak mudah dan ada "seni"nya untuk membalas "kejahatan" dengan kebaikan..namun ketika kita semakin lihai dalam hal ini, it's all gonna be worth it :) :)

2. Tegaslah..bukan bentak, apalagi teriak-teriak

Hehehe memang beda tipis yaa..malah kadang saya keceplosan teriak-teriak, tapi setelah anak saya pasang muka "tertegun", saya dalam hati masih suka bela diri dengan mengatakan ke diri saya bahwa saya hanya bersikap tegas.

Untuk point 2 ini memang juga butuh latihan. Yang pasti bedanya, kalau tegas itu muncul bukan akibat emosi negatif, melainkan akibat dari emosi terkontrol. Dan bukan akibat rasa sebel ke anak, melainkan akibat rasa kasih ke anak.

3. Mereka titipanNya..

Yes..itu kunci kenapa kita tidak mungkin bersikap "semena-mena", wong milik kita juga bukan..

4. Mereka cerminanmu..

Ini akan buat kita introspeksi diri terus..otomatis melatih diri kita menjadi manusia rendah hati juga ya..

5. Jadilah teladan, teladan, teladan..

Makanya saya percaya, ketika seseorang memutuskan untuk menjadi orangtua, disinilah ia memutuskan untuk terus belajar menjadi manusia yang lebih baik..Bagaimana tidak? Jika sebelum menjadi orangtua, ia adalah seseorang yang egois, yang moody dan sebagainya, maka ketika ia berstatus menjadi orangtua, sudah sewajibnya ia belajar menekan ego dan sifat moody-nya, karena ia tidak lagi "hidup" untuk dirinya sendiri, melainkan "hidup" untuk anaknya...Dan memang jangan pernah berharap anak kita kelak akan menjadi seperti ini, ini, ini, jika diri kita sendiri tidak berkelakuan seperti apa yang kita harapkan anak kita berkelakuan..

6. KONSISTEN

Yup, tidak ada gunanya kalau konsistensi kita dalam mendidik anak naik turun, metodenya berubah terus, penegakan disiplinnya setengah-setengah, mood kita berubah-ubah..yang ada anak hanya akan terbingung-bingung..Misalnya, ketika kita hendak melatih anak kita untuk tidur sendiri di kamarnya, akan sulit untuk berhasil apabila dua hari pertama kita konsisten melatihnya tidur di kamarnya meskipun ia bolak-balik ke kamar kita dan kita harus menemaninya kembali ke kamarnya dengan memberikannya pengertian misalnya, namun kemudian di hari ketiga kita kembali membiarkannya tidur di kamar kita. Inkonsistensi disini bisa menyebabkan anak kita melihat bahwa disini ia bisa "coba-coba" memberikan 1000 alasan agar ia tidak harus tidur di kamarnya. Alhasil, usaha kita akan lambat membuahkan hasil seperti yang kita harapkan.

7. Antisipasilah selalu

Ketika saya tahu persis bahwa anak laki-laki saya yang berumur 4 tahun tidak mungkin ditinggal berduaan dengan adiknya yang masih berumur 6 bulan, maka daripada terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, saya melakukan antisipasi dengan selalu meletakkan si bungsu di box-nya, kemudian meminta si sulung untuk keluar kamar apabila saya hendak ke kamar mandi misalnya. Ohya, tentu saya kunci kamar tersebut terlebih dahulu agar saya dapat ke kamar mandi dengan tenang :)

8. SABAR..SABAR..SABAR

Point yang satu ini memang sengaja saya tulis dengan huruf kapital karena memang sifat yang satu ini menurut saya maha penting..menangani bayi maupun menangani balita sama saja: butuh kesabaran extra deluxe :) Dengan kesabaran, kita mau nggak mau belajar mengendalikan diri..dengan pengendalian diri, sekeliling kita akan dapat terkontrol dengan baik..dengan keadaan sekeliling yang terkontrol dengan baik, terciptalah suasana nyaman sehingga tidak ada pihak yang sakit hati terutama dalam hal ini anak. Otomatis yang awalnya kesabaran dibutuhan untuk meredam anak kita yang sedang "berulah", dengan suasana nyaman yang tercipta, anak kita pun akan berhenti "berulah"..Sebaliknya, jika kita tidak memiliki sifat yang satu ini, maka justru akan berujung negatif, kita akan kehilangan kendali dan kontrol, terciptalah suasana yang tidak nyaman bahkan menyebabkan sakit hati pada anak, dan meskipun nampaknya anak berhenti "berulah" akibat kemarahan kita, tak jarang dalam hati kecil dan alam bawah sadarnya, justru ia "mempelajari" bahwa kemarahan adalah cara kita mengingini sesuatu. Besar kemungkinan, anak kita pun kelak akan menggunakan cara yang sama ketika ia tidak mendapatkan apa yang ia inginkan.

9. Bersyukur dan bersukacita senantiasa

Secapek-capeknya kita, sejenuh-jenuhnya kita, selalu ingat bahwa begitu banyaaaaak orangtua di luar sana yang begituuuuu merindukan kehadiran buah hati namun belum dititipkanNya...dengan terus mengingat hal ini, niscaya kita akan selalu bersyukur telah diberiNya kesempatan untuk membesarkan anak manusia dimana kita memiliki kendali penuh untuk menjadikan anak yang tadinya tidak berdaya kelak menjadi manusia yang luar biasa. Dasyat kan? Sooo...bersukacitalah senantiasa!

Wednesday, 19 October 2011

Asuh Anak : Ujian Setiap Hari (1)

Mengurus bayi dan balita memang tidak mudah. Apalagi jika kita tidak dibantu babysitter atau yang lainnya.

Sejak saya punya 2 anak, rasanya setiap hari adalah "ujian" bagi saya: ujian kesabaran, ujian tahan banting, ujian kecekatan, ujian sensitivitas, sampai ujian kelemahlembutan. Oya 1 lagi, tentunya ujian mematikan ego sendiri ;) Namun setiap hari juga adalah kesempatan baru untuk berbenah. Artinya, kalau mungkin di satu hari kita nggak "lulus" ujian kesabaran pada 1 kasus misalnya, nah di hari berikutnya adalah kesempatan untuk memperbaiki diri agar ketika menghadapi kasus serupa, "alarm" kesabaran kita akan berbunyi sehingga kita bisa lebih antisipatif, otomatis nggak marah-marah lagi kayak kasus yang pertama.

Tapi memang saya manusia biasa, yang harus selalu diingatkan..untuk itu, untuk mengingatkan diri saya sendiri pentingnya, eh salah, untuk menginatkan diri saya sendiri akan MAHA pentingnya kesabaran dalam mendidik dua buah hati saya, saya memasang kertas berwarna kinclong yang saya tempel di lemari, dengan tulisan di bawah ini:

1. Balaslah "kejahatan" dengan kebaikan
2. Tegaslah, bukan bentak apalagi teriak-teriak..
3. INGAT, mereka bukan milikmu! Mereka titipanNya..
4. Mereka adalah cerminanmu..
5. Jadilah: teladan, teladan, teladan..
6. KONSISTEN
7. Antisipasilah selalu
8. SABAR..SABAR..SABAR
9. Selalu bersyukur dan bersukacita :) :)

Nah, saya akan bahas point-point di atas pada artikel sambungannya yaa..

Tuesday, 18 October 2011

Menghadapi Kenakalan Anak

Mungkin kita pernah alami saat-saat dimana rasanya kepala ini kayak mau meledak saking emosinya lihat kelakuan anak yang seolah-olah terus pengen buat kita marah..Dan kayaknya semakin kita marahi kok malah menjadi-jadi ya, bukan sebaliknya..Saya sendiri tidak jarang mengalami hal ini. Wuih, benar-benar level kesabaran saya diuji setiap saat, dalam hal ini oleh anak saya yang berusia 4 tahun.

Seiring waktu, dengan banyaknya artikel parenting yang saya baca, saya jadi tahu bahwa ternyata melawan "kekerasan" anak dengan "kekerasan" juga (baca: tindakan represif), hanyalah akan memperburuk keadaan. Dari satu artikel yang saya baca di sekolahorangtua.com, ternyata kunci menghadapi "kenakalan" anak adalah :
  1. berempati, contoh : Ketika anak berulah, dengan intonasi berempati, kita bisa minta dia untuk tenang  dengan berkata, “Nak…, papa/mama minta kamu  tenang dulu ya, bisa?”…. ”Kamu mau papa/mama mengerti apa yang kamu inginkan, iya kan ? “…. “Ok, kalau sudah tenang, papa/mama siap mendengar apa yang kamu inginkan“…. ( pada tahap ini, anak merasa dirinya dimengerti dan aman emosinya )
  2. pahami perasaannya : dengarkan dan coba mengerti apa yang anak rasakan. Katakan pada anak… ”Ok Nak, papa/mama mengerti apa yang kamu alami. Ketika papa/mama mengalami apa yang kamu alami, mungkin papa/mama akan merasakan hal yang sama… ( pada tahap ini, anak akan jauh lebih tenang dan jauh lebih terbuka dengan orangtua. Ia merasa dirinya dipahami / diterima )
  3. beri pengarahan. Setelah diberikan empati dan dimengerti, anak akan menerima pengarahan Anda dengan senang hati. “Ok Nak, agar kamu bisa mendapatkan apa yang kamu inginkan, maka kamu bisa melakukan …………  ok, ini cukup jelas ?… “Bagaimana perasaanmu sekarang ?… Apakah kamu merasa lebih baik ?… Apakah ini yang kamu inginkan ?… "Ok Nak, papa/mama yakin kamu semakin hari semakin baik…" Berikan pelukan hangat, dan penuh kasih sayang.
Memang kenyataannya tidak semudah yang kita baca di atas, namun dengan latihan dan "jam terbang" yang semakin tinggi, emosi kita akan lebih terlatih dan kita akan semakin memahami anak kita sehingga secara efektif dapat meredam "kenakalan" mereka tanpa membuatnya semakin runyam di kemudian hari. Salam orangtua!

Thursday, 13 October 2011

Kapan Anak Mulai Belajar Bahasa Inggris?

Jaman sekarang banyak orangtua memperkenalkan bahasa Inggris ketika anaknya masih balita bahkan lebih muda dari itu. Sekolah bilingual ada dimana-mana, termasuk playgroup/ preschool. Namun kapan sebenarnya dan bagaimana cara kita memperkenalkan bahasa Inggris yang efektif ke anak-anak kita?

Satu hal lagi yang buat saya penasaran sejak anak saya memasuki usia ke 3 tahun: kapan sebaiknya saya mulai mengajarnya Bahasa Inggris? Apalagi hari gini, ketika playgroup rata-rata menerapkan system bilingual, sementara sudah hampir 1 tahun ini saya masih percaya bahwa
anak saya sebaiknya ikutan playgroup yang murni bahasa Indonesia..keinginan untuk mengajak anak sayabercakap-cakap dalam bahasa Inggris sudah terbersit sejak lama (cieh kesannya udah lama banget:) ), namun saya ingin memastikan anak saya secara konsep sudah cukup matang dalam berbahasa Indonesia, sebelum saya mulai mengajaknya bercakap-cakap dalam bahasa Inggris…

Bersumber dari sebuah artikel dari http://www.docstoc.com/, dikatakan bahwa jika bahasa ibu belum lancar sementara anak sudah “dijejali” bahasa-bahasa asing, bukannya akan menambah cepat anak menguasai bahasa asing, melainkan dapat menimbulkan efek psikologis, dan tak tertutup kemungkinan laju perkembangan bahasa pertamanya malah menjadi terhambat, atau justru merusak sistem-sistem bahasa pertamanya.  Masih dari sumber yang sama, disebutkan bahwa menurut Dr. Bambang Kaswanti Purwo, ketua Program Studi Linguistik Terapan Bahasa Inggris, Universitas Katolik Atma Jaya, Jakarta, dalam tulisannya Pengajaran Bahasa Inggris di SD dan SMTP, menyebut bahwa usia 6-12 tahun, merupakan masa emas atau paling ideal untuk belajar bahasa kedua.
Artikel lain yang bersumber dari http://id.shvoong.com/ menyebutkan bahwa menurut Muhammad Rizal, Psi, psikolog pendidikan anak, mengajarkan anak bahasa asing bisa dimulai sejak usianya di atas 4 tahun, karena pada saat itu anak sudah mengerti bahasa ibunya dan memiliki struktur bahasa yang kuat. Pada saat itu kita bisa mulai mengajarkan hal-hal yang sederhana, misalnya belajar angka, warna atau bentuk. Disitu juga disebutkan bahwa banyak kejadian anak yang dimasukkan ke sekolah bilingual tapi belum memiliki struktur bahasa ibu yang kuat menjadi bingung. Anak tidak tahu bahasa apa yang seharusnya digunakan, sehingga nantinya anak malah menggunakan bahasa 'gado-gado'. Ini karena banyak orangtua yang memaksakan anaknya untuk belajar bahasa asing hanya ikut-ikutan trend atau gengsi saja tanpa melihat kemampuan dari si anak. Fiuh, ternyata nggak gampang yah jadi orang tua ketika di sekitar kita semua melakukan hal yang sama sementara kita tidak ingin dibilang ketinggalan “trend”? Yah..mudah-mudahan bukan itu yah yang jadi concern utama kita sebagai orang tua: ikutan trend...

Anak Mengenal Diri Sendiri

Saya teringat ketika lulus SMA dulu, ketika ditanya saya ingin masuk jurusan apa, saya akan menjawab jurusan Hukum. Lucunya, saya memilih jurusan itu bukan karena saya ingin menegakkan hukum atau karena ingin menjadi pembela keadilan, melainkan semata-mata karena saya tahu masuk jurusan tersebut tidak terlalu "susah" :) Saya jadi terkesima ketika saya mengetahui bahwa ada anak SD yang ketika ditanya ingin menjadi apa ketika besar nanti, dengan yakin ia bisa menjawab bahwa ia ingin menjadi seorang reporter TV. Tidak hanya itu, ia juga tahu persis ingin jadi reporter macam apa.

Anak SD calon reporter di atas adalah contoh yang baik bagaimana seorang anak mengenal benar dirinya. Ia tahu apa tujuan hidupnya. Ternyata seorang anak dapat mengenal benar dirinya serta tahu tujuan hidupnya karena dalam proses pengasuhannya, pembawaan alamiah dirinya dihargai betul oleh pengasuh atau lingkungannya. Orantua yang selalu "mendoktrin" anaknya, "memaksakan kehendak" mereka sendiri ke anak, banyak menuntut anak dengan mengabaikan pembawaan alamiah, kemampuan serta tahapan perkembangan anak itu sendiri, cenderung menjadikan anak kurang mengenal dirinya, sehingga tidak mampu menentukan sendiri apa tujuan hidupnya dikarenakan bingung antara mengikuti keinginan sendiri dengan mengikuti kehendak orangtua. 

Setiap makhluk hidup dilahirkan dengan memiliki pembawaan alamiahnya masing-masing.  Tugas kita sebagai orangtua adalah mengenali pembawaan alamiah ini dan membentuknya sehingga sesuai dengan kecenderungan yang ada dalam diri anak.

Apakah sebenarnya yang dimaksud pembawaan alamiah itu? Pembawaan alamiah adalah apa yang dimiliki anak sejak lahir, yaitu :

1. Genetik, termasuk di dalamnya sifat, karakter maupun ciri fisik yang diturunkan dari kedua orangtuanya.
    
2. Jenis kelamin dan hormon. Hal ini juga yang membedakan antara pembawaan alamiah anak laki-laki dan perempuan.
 
3. Kemampuan berhubungan dengan orang lain. Ada yang pada dasarnya introvert, ada yang ekstrovert.

4. Perkembangan otak. Perkembangan otak akan mempengaruhi perilaku anak.

Sebagai orangtua, kita harus menyadari hal-hal di atas, sehingga tidak akan "memaksakan" anak. Contoh: anak yang introvert atau anak yang perlu beradaptasi terlebih dahulu ketika memasuki lingkungan baru, tentu orang tua tidak dapat memaksakan anak untuk segera mampu bergaul. Jika anak masih malu-malu, tidak perlu orangtua berkata," Ayo dong main sama temannya, kok pemalu banget sih?"

Orangtua yang memahami pembawaan alamiah anak serta tekun membentuknya dengan nilai-nilai positif yang hendak ditanamkan ke anak, akan membuat anak nyaman dengan dirinya. Alhasil, anak akan semakin mengenal dirinya dan dapat menentukan sendiri kemana tujuan hidupnya nanti. 

Dan di lain waktu, kita akan bahas di artikel lain bahwa anak yang mengenal diri sendiri dengan baik telah memiliki bekal yang baik untuk mencapai kesuksesan dalam hidup ini kelak. Yuk, kita kenali pembawaan alamiah anak-anak kita dan bentuk dengan nilai-nilai kehidupan yang positif!