horizontal banner

Sunday, 20 July 2014

Tahu Nama-Nama Tumbuhan Ini? (2)

Masih kelanjutan dari artikel saya sebelumnya, kali ini saya dan anak-anak jalan-jalan ke Taman Suropati JakPus, lalu ke Buperta Cibubur (Kampoeng Maen) dan ke Buperta Ragunan...Masih sama nih Ibu-Ibu, boleh minta bantuannya kasih tahu saya nama-nama bebungaan ini? Terima kasih banyak..thank you so much..maturnuwuuun :)
Gb. 1

Gb. 2


Gb. 3


Gb. 4


Gb. 5


Gb. 6 Kalau yang ini bukan bunga sih, siput kan ya? Kok menggemaskan ya? :)


Gb. 7


Gb. 8


Gb. 9











Monday, 16 June 2014

Tahu Nama-Nama Tumbuhan Ini?

Keputusan meng-homeschool-kan anak-anak betul-betul menuntut saya banyak belajar. Dan keputusan memilih metode pendidikan Charlotte Mason ("CM") yang sarat dengan nature study menuntut saya lebiiiiih banyak lagi belajar:) Sejak kecil, biologi sama sekali bukan pelajaran favorit saya. Dan sejak kecil juga, saya sangat jarang "bergaul" dengan tumbuhan maupun binatang. Alhasil, saya hampir tidak tahu apa-apa mengenai tumbuhan, termasuk nama-nama bunga di sekitar saya! Yah, kalau cuma sebatas mawar, melati, anggrek dan kembang sepatu sih tahu. Tapi selebihnya, boro-boro... :)

Sejak saya memutuskan mengajar anak-anak saya dengan metode CM, mau tidak mau saya harus belajar dari nol. Sudah beberapa bulan belakangan ini, saya sangat terinspirasi dengan blog http://handbookofnaturestudy.com ... naah, mulai sekarang, ceritanya, saya ingin contek sedikit postingan-postingan di blog tersebut..dengan caraa, mulai memamerkan foto-foto tumbuhan yang saya jepret ketika sedang nature walk dengan anak-anak...cuma bedanya dengan blog di atas, kalau di blog itu penulis sudah tahu nama-nama tumbuhan yang ditampilkan fotonya..kalau saya, belum tahu :) ..justru saya jembrengkan fotonya supaya saya bisa tanya ke teman-teman apa sih nama tanaman tersebut..hehehe... boleh yaa? :) Ini dia beberapa di antaranya...






























Oyaa..1 lagi perbedaan antara blog di atas dengan blog saya: kalau di blog di atas kameranya yang profesional punya, kalau saya pakai kamera handphone hehehe...kurang piawai pula pakainya alias gaptek :D 

Foto-foto di atas saya ambil ketika sedang main ke taman cattelya dan taman di Pondok Indah..

Terima kasih buat teman-teman yang bersedia menginfokan nama-nama tumbuhan di atas! 

 


Thursday, 23 May 2013

Kurangi Ketergantungan Pada ART :)


Hidup tanpa asisten rumah tangga? Mmm..mungkin bagi teman-teman yang sudah terbiasa dengan hal ini, hidup tanpa ART tidaklah luar biasa. Namun, ketika pertama kali ditantang suami untuk hidup tanpa ART kok saya rasanya nggak pede ya? Maklum, sejak kecil saya “hidup” dengan keberadaan ART. Dan sejak menikahpun, saya adalah wanita pekerja yang “taunya” cuma kerja pagi sampai sore, kemudian urus anak sampai anak tertidur. Nggak ada tuh dalam kamus saya  yang namanya saya harus mencuci dan menjemur pakaian :) Namun ide itu tercetus pertama kali ketika ART kami memutuskan untuk mengundurkan diri. Saat itu saya tidak melarang beliau untuk mengundurkan diri, karena sebenarnya dalam hati kecil saya, ada keinginan untuk melepaskan “ketergantungan” pada orang lain di dalam hal mengurus rumah tangga.

Hari-hari pertama “hidup” tanpa ART begitu melelahkan. Cuapeeeeek buanget rasanya nih badanJ Padahal kondisinya adalah saya masih “didatangkan” ART ibu saya 3 hari seminggu, dimana beliau tidak menginap. Namun mungkin karena badan ini belum terbiasa, meskipun saya tidak masak, badan terasa sangat capek, tak jarang memicu emosi dan beberapa kali menyebabkan saya “berantem” dengan suami :(

Namun setelah saya jalani beberapa minggu, 1 bulan, 2 bulan, badan ini mulai terbiasa. Yang tadinya mencuci piring menumpuk nampak begituuu berat buat saya, sekarang saya sudah mulai terbiasa tidak menumpuk cucian melainkan berusaha langsung mencuci begitu melihat ada piring kotor di bak. Yang sebelumnya saya hampir tidak pernah memasak, sekarang saya mulai mencoba resep-resep masakan walaupun masih resep sarapan yang mudah dan praktis hehehe. Yang sebelumnya saya sama sekali tidak pernah berkebun, sekarang saya mulai belajar menanam sayuran secara hidroponikJ Yang sebelumnya kurang ada “urgency” untuk mengajar anak melakukan pekerjaan rumah tangga, sekarang kami mulai memberlakukan jadwal pembagian tugas harian bagi anak-anak kami, Yosua (5 tahun) dan Ester (2 tahun).  Yang sebelumnya saya hampir tidak pernah berkomunikasi dengan mereka yang bekerja di lingkungan perumahan kami seperti ART tetangga, hansip maupun tukang yang sedang bekerja di rumah kami, sekarang saya “belajar” berkomunikasi dengan mereka. Dan yang sebelumnya saya hampir tidak pernah menyentuh pekerjaan rumah tangga yang “remeh-temeh dan kadang jorok”, sekarang mau tidak mau saya harus mengepel, menjemur pakaian, termasuk membuang bangkai tikus! (untuk yang terakhir ini, saya sungguh bangga pada diri saya sendiri hahaha)

Dan lambat laun, apa yang saya dan suami “usahakan” untuk mengajar anak-anak “mandiri” mulai membuahkan hasil. Kami menghargai setiap hasil yang terlihat, sekecil apapun itu. Yosua mencuci piringnya sehabis makan malam (ia baru setuju melakukan ini sehari sekali, jadi baru malam hari hehe), ataupun mengambil tisu untuk membersihkan sisa makanannya yang tumpah di lantai, adalah beberapa contoh kemandirian Yosua yang mulai kami nikmati. Bahkan mencuci sepeda dan membuat cemilan sore adalah beberapa hal yang kadang kami lakukan bersama.







Ketiadaan ART yang standby setiap saat juga memberikan kami privacy yang pooool:)  Kalau dulu saat di meja makan saya dan suami harus “menyeleksi” apa yang bisa kami perbincangkan dan apa yang tidak (maklum, ruang makan kami tidak jauh dari kamar ART), sekarang tidak lagi:)

Kalau dipikir-pikir, ternyata kondisi kami saat ini (ART hanya datang seminggu 3x) jauh lebih menguntungkan dalam segi pembelajaran baik bagi saya, suami, maupun kedua anak kami yang masih kecil. Saya dan suami sungguh berharap, proses pembelajaran ini dapat berjalan semakin baik dan membuahkan kemandirian bagi kami terutama anak-anak sehingga kelak mereka dapat menjadi manusia yang tidak tergantung pada orang lain melainkan menjadi manusia yang bermanfaat bagi banyak orang..amin.


Sumber gambar kartun : anervousticmotion.com

Wednesday, 8 May 2013

Kuliah Ibu Profesional di @America: Digital Mommy

Pas saat perayaan hari Ibu Desember lalu, saya mengikuti acara bincang-bincang yang diselenggarakan IbuProfesional.com di @America. Pembicaranya adalah tokoh yang cukup saya kagumi dalam bidang pendidikan: Rhenald Kasali :) Acara kali ini membicarakan mengenai "Digital Mommies" alias ibu-ibu jaman sekarang yang melek teknologi, terutama internet. Dimana dengan melek internet ini, meski para ibu harus bertanggungjawab penuh atas rumah tangga terutama perihal pengasuhan dan pendidikan anak-anaknya, mereka tetap dapat berkarya tanpa harus meninggalkan rumah, yaitu berkarya dengan bantuan internet :) Untuk topik ini, IbuProfesional.com menghadirkan 3 ibu warga negara Indonesia yang berdomisili di luar negri: Amerika, Swedia, dan Singapura. Pembawa acara dan kami para audience melakukan teleconference dengan beliau-beliau ini dimana beliau-beliau berbagi pengalaman dalam menjalankan peran sebagai ibu rumah tangga dengan bantuan internet :) Setelah itu, giliran Pak Rhenald Kasali berbagi mengenai perubahan yang dapat dan harus dilakukan oleh para ibu dalam keluarga mereka, terutama dalam hal pendidikan anak, demi mencapai perubahan positif di tanah air kita tercinta.

Mba Vanda dari Amerika, yang menjalankan homeschooling bagi anak-anak mereka, melatih anak-anak mereka untuk mandiri dan bertanggungjawab. Maka tidak heran, di rumah mereka, setiap anaknya memiliki tanggungjawab. Contoh pelatihan kemandirian sejak dini ini adalah mengajarkan anaknya yang berumur 6 tahun bagaimana cara memegang pisau dengan benar dan bagaimana menyalakan kompor. Beliau memiliki 4 orang anak, dan kesemuanya laki-laki :) Kebayang yah "repot"nya :) Namun dengan bantuan teknologi komputer, beliau telah memasukkan data jadwal kegiatan masing-masing anak ke dalam komputer yang dilengkapi dengan reminder sehingga tidak akan terjadi appointment ataupun jadwal yang terlewat karena kelimpungan mengurus 4 anak dengan jadwal kegiatan yang berbeda-beda :) Dengan reminder ini, dengan sigapnya beliau dapat mengantar 3 anak ke 3 tempat bermain bola yang berbeda dalam waktu sekitar 1 jam saja:) Dan yang juga mengesankan bagi saya adalah tips dari beliau bagaimana cara membesarkan 4 anak. Ternyata, enaknya anak banyak, asalkan kita tahu bagaimana "mengendalikan" sang kakak, maka otomatis adik-adiknyapun akan ikut kakaknya:) Seru kaaan? Satu lagi statement yang berkesan bagi saya adalah menurut Mba Vanda: "A happy wife will make a happy hubby; a happy hubby will make a happy family:)" 

Setelah beberapa ibu rumah tangga dari beberapa negara berbeda sharing, giliran tamu yang ditunggu-tunggu seluruh hadirin: Bapak Rhenald Kasali tentu saja!:) Wuih..senang banget dapat kesempatan mendengar langsung beliau sharing tentang pendidikan anak..apalagi hal itulah yang saya hadapi sehari-hari sejak saya meng-klaim diri saya sebagai orangtua pelaku home education..Beliau sharing banyak, namun salah satu kesimpulan yang saya dapat adalah bahwa beliau seperti halnya kebanyakan kita: tidak puas dengan budaya pendidikan negeri ini. Menurut beliau, sistem pendidikan negeri ini: kebanyakan teori, lebih peduli "kulit luar" ketimbang "isi", dan membebani anak. 

Contoh "kebanyakan teori" adalah: pelajaran baik itu eksakta maupun non eksakta kebanyakan hanya dihafal, tanpa dipahami dan diperdalam konsepnya. Bahkan pelajaran agama dan pelajaran menggambarpun (masih ingatkan bagaimana seragamnya kita di jaman SD dulu ketika menggambar pemandangan!) dihafal! Hal ini juga sangat erat kaitannya dengan kreatifitas anak. Sebenarnya tidak hanya dalam pelajaran akademis, dalam hal pola asuh anak sehari-haripun, anak-anak kita kurang dilatih menjadi kreatif. Contoh, bayi mungil Indonesia cenderung dibedong, padahal sebelumnya sudah dikasih minyak telon! Eeh setelah dibedong, dikasih selimut pula!:) Akhirnya bayi-bayi mungil kita kurang diberi "ruang" kebebasan bereksplorasi. Sementara contohnya di Amerika, bayi tidak mengenal bedong, alhasil mereka lebih bebas bereksplorasi, sebagai modal awal mereka kelak menjadi anak-anak yang kreatif:) Dengan memiliki kreatifitas tinggi ini, anak-anak kita dilatih untuk kelak dalam kehidupan dewasanya menjadi "driver" ketimbang "passenger", yang  kritis dan penuh inisiatif. Oya, satu lagi contoh yang disebutkan Pak Rhenald yang membuat saya "geli" adalah cerita ketika seorang anak yang memiliki ibu seorang direktur perusahaan besar, di kelas ia disuruh menghafal "Keluarga inti terdiri dari ayah, ibu dan anak-anak. Ayah pergi ke kantor mencari nafkah, ibu mengurus rumah." Sang anak protes karena merasa ibunya jarang di rumah. Dan sang gurupun hanya menjawab, "Ikutin saja buku!" Gubrak :(

Contoh budaya dunia pendidikan kita yang lebih peduli "kulit luar" atau "label" ketimbang "isi" adalah betapa "bangga"nya adik-adik kita (bahwa mungkin kita sendiri ketika baru lulus dulu) ketika menyebutkan bahwa mereka lulusan UI dan sejenisnya. Padahal sesungguhnya itu hanyalah "kulit luar"nya saja. Yang seharusnya menjadi kebanggaan kita bukanlah "tampilan luar" kita melainkan apa yang betul-betul menjadi milik kita sebagai modal kita menjalankan hidup ini, misalnya kreatifitas, kejujuran, ataupun sikap tanggung jawab yang ada di dalam diri kita. Contoh lain adalah apa yang dapat kita lihat di taman kanak-kanak. Disini, sepertinya mengajarkan anak-anak calistung sedini mungkin adalah kebanggaan tersendiri. Sementara di Jepang, di usia TK, mereka tidak diajarkan calistung melainkan dilatih berdisiplin, dilatih bagaimana menghormati orang lain, bermain origami untuk melatih motorik dan kreatifitas dan lain-lain yang lebih bersifat "isi" ketimbang sekedar untuk memuaskan "tampilan luar" anak.

Contoh pendidikan kita yang membebani anak bisa dilihat dari jumlah mata pelajaran yang harus dikuasai anak-anak kita. Pak Rhenald cerita bahwa anak beliau ketika masih bersekolah disini, sekolahnya "berantakan".Saat itu yang harus ia kuasai adalah sebanyak 17 mata pelajaran. Dan ketika SMA anak Pak Rhenald pindah ke New Zealand, disana ia cuma bertemu dengan 2 mata pelajaran wajib + 4 mata pelajaran pilihan:) :) Ketika di Indonesia ia "dihakimi" sebagai anak dengan ranking "buntut", di New Zealand ia tidak mendapat "penghakiman" semacam itu melainkan mendapatkan kata-kata penyemangat di setiap mata pelajaran yang dijabarkan di buku rapornya.

Dan satu poin lagi yang terlontar dari mulut Pak Rhenald yang berkesan buat saya adalah bagi para guru, jangan pernah mengajarkan sesuatu yang tidak kita percayai karena sudah pasti murid-murid kitapun tidak juga akan bergairah mempelajarinya :) 

What a great sharing..Terima kasih IbuProfesional..Terima kasih @America :) Soo, yuk para ibu, kita bersatu untuk melepas paradigma dan mental lama kita terkait pendidikan, dan kita buka lembaran baru untuk memberikan pendidikan yang terbaik buah anak-anak kita, demi masa depan Indonesia tercinta!



Monday, 17 December 2012

Renungan: Apa Tugas Orangtua? (Bagian 2 dari 2 - Tamat)

Saya dan suami tidak lebih dari sepasang manusia dengan banyak kekurangan. Sama halnya dengan setiap manusia, saya dan suami tidak terlepas dari sifat yang kurang baik, dari karakter yang kurang mumpuni, ataupun dari kebiasaan-kebiasaan yang tidak bisa menjadi teladan. Kami punya itu. Kami akui itu. Namun itu sama sekali bukan alasan bagi kami untuk tidak berusaha menjadi orangtua terbaik bagi anak-anak kami. Sama dengan ketika siapapun hendak memulai sebuah bisnis, atau hendak memulai sebuah profesi baru dalam bidang apapun, ketika sepasang manusia memutuskan hendak mempunyai anak, sudah sepatutnya mereka membuat perencanaan, memperlengkapi diri mereka dengan wawasan dan keterampilan yang diperlukan, sambil terus memperbaiki diri selama mengemban tugas baru tersebut.

Tentu tidaklah berarti bahwa untuk menjadi orangtua terbaik, manusia haruslah menjadi sempurna terlebih dahulu. Tidak ada satupun orangtua yang sempurna. Yang ada adalah orangtua yang berusaha menjadi yang terbaik bagi anak-anak mereka. Alangkah indahnya dunia ini jika setiap orangtua memiliki visi yang sama: menjadi orangtua yang terbaik bagi anaknya. Dan untuk menjadi orangtua yang terbaik, tidak cukup jika kita "hanya" meniru apa yang telah orangtua kita lakukan dahulu ketika membesarkan kita. Bersyukurlah jika kita memiliki orangtua yang telah membesarkan kita dengan baik. Namun, tentu jika kita bisa membesarkan anak kita dengan lebih baik lagi, mengapa tidak? Apalagi saat ini adalah era informasi, dimana dengan mudahnya kita dapat memperoleh informasi apapun yang kita butuhkan sebagai bekal wawasan dan pengetahuan kita dalam mendidik dan membesarkan anak-anak kita (beda dengan jaman orangtua kita dulu ketika informasi belum semudah saat ini untuk diakses).  Dan jika kita renungkan, sesungguhnya anak-anak kita saat ini lebih membutuhkan bimbingan orangtua mereka ketimbang ketika kita masih berstatus anak. Mengapa? Jaman sekarang jaman lebih keras. Godaan lebih bertebaran dimana-mana. Akhlak semakin merosot. Jika usaha kita sama apalagi kurang dari usaha orangtua kita dahulu saat membesarkan kita, anak-anak kita tidak akan mampu menjadi berkat bagi kehidupan ini. Anak-anak kita tidak akan mampu menggali potensi terdalam mereka. Anak-anak kita tidak akan mampu memperbaiki lingkungan tempatnya berada. Anak-anak kita tidak akan mampu menciptakan perubahan bagi umat manusia ke arah yang lebih baik.

Yuk para orangtua, hanya 1 kali seumur hidup kita menjalankan profesi ini, yuk kita lakukan dengan sebaik-baiknya, habis-habisan...

Monday, 26 November 2012

"Belajar" di Hari Libur


Sebagian besar penduduk Indonesia tentunya berprofesi sebagai karyawan. Kenapa saya begitu yakin? Karena sudah beberapa kali saya baca di surat kabar bahwa prosentase penduduk Indonesia yang berwirausaha hanyalah kurang dari 1%. Selain itu, sebagian besar anak-anak kita juga menuntut ilmu di sistem bernama sekolah. So? Itulah sebabnya (menurut saya ehm;) ), ketika tanggal merah, bukanlah saat yang tepat untuk berlibur ke luar kota. Dan bagi warga Jakarta, saat tanggal merah, bukanlah saat yang tepat untuk berlibur ke Puncak hehehe. Karena di tanggal itulah sebagian besar orang akan melakukan hal yang sama dan sebagian besar anak juga akan bepergian ke tempat yang sama.

Sekitar 2 minggu lalu ketika tanggal merah dan sambil menyaksikan macetnya jalan tol, dimana kami sampai berbalik haluan dan merubah rencana kami semula, saya sempat bergurau ke suami, "Coba kalau warga Jakarta kebanyakan pengusaha, mungkin kejadiannya bakal lain ya?:) "

Yang tadinya kami berencana mengunjungi kawan di Bogor, akhirnya kami berbalik arah ke arah Ciledug. Kalau ke arah balik biasanya tidak macet di musim liburan begini. Justru dari Ciledug orang-orang akan berbondong-bondong ke arah Bogor kali yaa ;) Rencana berubah, yang semula ingin mengunjungi kawan di Bogor, menjadi mengunjungi saudara kami di Ciledug. Meskipun baru dihubungi mendadak, puji Tuhan saudara kami ini ada di tempat dan memang tidak berencana untuk keluar rumah.

Setiba kami disana, kami ngobrol, doa dan makan bersama. Saudara kami ini adalah seorang Opung yang tidak lagi bersuami, punya anak 4 orang dan cucu 2 orang. Dari ke4 anaknya, 3 di antaranya tinggal serumah dengannya. Dan dari ketiga anaknya yang tinggal serumah ini, 1 di antaranya menderita cacat yang sudah memakan waktu puluhan tahun, dan dirawat oleh Opung dan oleh salah 1 anaknya. Inilah pekerjaan Opung dan anak bungsunya sehari-hari: merawat si sulung yang cacat sudah selama puluhan tahun.

Bagi saya yang belum terbiasa mengunjungi orangtua, kunjungan kali ini meskipun "dadakan" dan sederhana, mempunyai makna tersendiri bagi saya pribadi. Disini saya belajar menepis kepentingan sendiri untuk beberapa saat, dan "fokus" pada kepentingan Opung. Walaupun kenyataannnya sih saya tidak terlalu bisa banyak ngobrol dengan Opung karena harus mengawasi kedua anak kami bermain di teras depan. Ibu dan suami saya yang lebih banyak ngobrol dengan Opung.

1 hal yang juga menurut saya menarik adalah di rumah Opung dimana tidak tersedia mainan sama sekali, kedua anak kami nampaknya bisa menikmati "mainan-mainan" yang ada, yaitu sapu, pengki, sapu lidi dan tanah di teras depan hehehe..Dan selama sekitar 1 jam disana, tugas utama saya adalah mengawasi mereka dengan kesibukan mereka menggunakan “mainan-mainan” itu :D Hal menarik lainnya adalah mengamati raut wajah Opung yang bersukacita menerima kunjungan kami, termasuk bersukacita menyaksikan tingkah laku kedua bocah yang sibuk “membersihkan” teras rumah Beliau ;)

Meskipun kunjungan kami hanya memakan waktu sekitar satu jam, namun seperti saya sebutkan tadi, buat saya hari ini mengesankan. Dan ini tidak lepas dari, bahkan justru karena kesederhanaan dan spontanitasnya...Dan nampaknya anak-anak kami disini juga belajar sedikit mengenai kesederhanaan.  Belajar menikmati apa yang ada. Tidak merengek untuk yang tidak ada. Belajar memberi salam ataupun bergaul dengan Opung yang bukan kakek neneknya langsung. Belajar sopan santun di rumah orang lain. Ternyata banyak hal yang mereka dapatkan hari ini, di hari libur yang tanpa mall dan games ini;) Dan dalam perjalanan pulang, kami mampir sebentar ke supermarket untuk membeli bahan membuat cupcake untuk “bermain” di dapur bersama si sulung di sore harinya.

What a sweet holiday..:)



Saturday, 10 November 2012

Kelas Ibu Profesional

Hari ini saya baru saja mengikuti sebuah kelas. Dari sekian banyak kelas yang pernah saya ikuti, entah itu jaman sekolah dulu, atau ketika masih meniti karir di sebuah perusahaan, ataupun kini setelah menjadi orangtua dari dua orang anak, kelas seperti tadi, yaitu kelas parenting, adalah salah satu kelas favorit saya:) Kelas yang diadakan oleh ibuprofesional.com ini ditujukan oleh para ibu maupun calon ibu, dengan topik: Membangun Mimpi Keluarga, Digital Mommie, dan Cara Jadi Magnet Uang dari Rumah. Pembicaranyapun seru-seru, yaitu Ibu Septi Peni Wulandari, founder Ibu Profesional; Mira Julia dari rumahinspirasi.com yang juga adalah co-founder Ibu Profesional; dan Ali Akbar pakar SEO kita:)

Sejak saya mengenal istilah homeschooling dan berhasrat untuk meng-homeschooling-kan anak-anak kami kelak, saya semakin bersemangat mengikuti kelas-kelas parenting. Materi-materi parenting sungguh menggugah saya, terutama terkait dengan pendidikan. Pendidikan anak. Ketimbang ilmu hukum, ilmu perbankan maupun ilmu MLM yang pernah saya dapatkan di masa lalu, ilmu parenting adalah ilmu yang selalu membuat saya passionate, bergairah. Dan bisa datang ke kelas seperti hari ini adalah kesempatan yang tidak boleh saya lewatkan.

Di topik yang pertama yaitu Membangun Mimpi Keluarga, saya berkenalan dengan Bu Septi. Beliau antara lain adalah pencipta Jarimatika yang begitu populer. Beliau juga adalah ibu dari 3 orang anak. Banyak kalimat yang diucapkan Beliau tadi yang menggugah saya, antara lain:
  1. Jika kita sebagai wanita bisa profesional di dunia kantor, mengapa kita tidak bisa profesional sebagai ibu rumah tangga?
  2. Jika kita bisa cantik dan rapi ketika hendak ke bank misalnya, mengapa kita tidak bisa cantik dan rapi ketika berada di rumah?
  3. Ketika kita bisa bersungguh-sungguh dalam pekerjaan kita di luar rumah, mengapa kita tidak bersungguh-sungguh dalam melakukan pekerjaan kita di rumah?
  4. Ketika kita (bagi yang berprofesi guru) bisa bersungguh-sungguh saat mengajar anak orang, mengapa kita tidak bersungguh-sungguh ketika mengajar anak sendiri?
  5. Ciptakan impian bagi keluargamu! Dorong anak-anak kita untuk menciptakan impian mereka! Dream, share it, do it!
  6. Di dalam keluarga, sudah seharusnya seluruh anggota keluarga membahas apa yang dapat mereka lakukan untuk mencapai impian bersama, impian masing-masing, maupun apa yang dapat masing-masing lakukan untuk membantu anggota keluarga lainnya mencapai impiannya. Keluarga adalah tim. Jangan malah setiap anggota keluarga sibuk dengan kegiatan masing-masing dan hanya berada di rumah untuk tidur :( Jangan ketika di rumah hanya nonton TV bersama namun ketimbang membahas impian bersama, malah membahas gosip artis :(
  7. Saat kita memiliki impian, bagikan impian itu ke anggota-anggota keluarga kita maupun ke orang lain! Bahkan pengalaman Ibu Septi sendiri, setelah beliau menuliskan/ memvisualisasikan impian Beliau di vision board, beliau tunjukkan vision board tersebut ke banyak pihak. Disini beliau percaya bahwa ketika kita membagikan impian kita ke orang lain bahkan ke banyak orang, maka ini seolah-olah akan menjadi seperti magnet bagi kita untuk semakin dekat dengan impian kita. Mengapa? Karena dengan orang lain mengetahui impian kita, ketika mereka mempunyai informasi ataupun dorongan yang kita perlukan untuk meraih impian kita, mereka akan membagikannya kepada kita!
Dan setelah beliau menutup sesi pertama kelas dan Mba Mira Julia (Mba Lala) membuka sesi berikutnya, Mba Lala mengatakan bahwa Bu Septi ini adalah contoh seorang tokoh yang tidak hanya berhasil di luar rumah, namun yang lebih penting adalah seorang tokoh yang berhasil di dalam rumah, tentu bersama suami dan ketika buah hatinya :) :) :)  Mauuuuuu ;)

Berikutnya di sesi Mba Lala, Beliau kembali mengingatkan para peserta bahwa meskipun kita adalah ibu rumah tangga yang seolah-olah harus "mengubur" impian masing-masing demi membangun impian anak-anak, sesungguhnya di era informasi dan teknologi seperti saat ini, kita tetap dapat membangun impian kita. Dengan internet, segalanya menjadi mungkin:) Pengalaman Mba Lala sendiri, selain membangun impian keluarganya, beliau tetap membangun impiannya sendiri. Dan dengan bekerja dari rumah, "hanya" bermodalkan internet, beliau bisa mempelajari dan mempraktekkan ilmu yang didapatkannya tersebut demi membangun impiannya! Juga mauuuuuu ;)

Terakhir ada Pak Ali Akbar yang juga kembali mengingatkan para peserta bahwa internet dapat menjadi mesin pencetak uang yang dasyat. Untuk itu, yang perlu dikuasai adalah ilmu optimasi (terdiri dari: optimasi mesin pencari, optimasi jejaring sosial dan optimasi perangkat bergerak), bisnis dotkom alias sedot komisi alias makelar:), dan marketing alias makelar everything :D

Yang pasti, sesuai mengikuti kelas tadi, saya menjadi semakin bersemangat untuk membangun impian keluarga termasuk impian saya pribadi! Menjadi ibu rumah tangga fulltimer harus tetap eksis kaaaan ;)


Foto bareng Mba Mira Julia (Lala), salah 1 pembicara :)