horizontal banner

Wednesday, 8 May 2013

Kuliah Ibu Profesional di @America: Digital Mommy

Pas saat perayaan hari Ibu Desember lalu, saya mengikuti acara bincang-bincang yang diselenggarakan IbuProfesional.com di @America. Pembicaranya adalah tokoh yang cukup saya kagumi dalam bidang pendidikan: Rhenald Kasali :) Acara kali ini membicarakan mengenai "Digital Mommies" alias ibu-ibu jaman sekarang yang melek teknologi, terutama internet. Dimana dengan melek internet ini, meski para ibu harus bertanggungjawab penuh atas rumah tangga terutama perihal pengasuhan dan pendidikan anak-anaknya, mereka tetap dapat berkarya tanpa harus meninggalkan rumah, yaitu berkarya dengan bantuan internet :) Untuk topik ini, IbuProfesional.com menghadirkan 3 ibu warga negara Indonesia yang berdomisili di luar negri: Amerika, Swedia, dan Singapura. Pembawa acara dan kami para audience melakukan teleconference dengan beliau-beliau ini dimana beliau-beliau berbagi pengalaman dalam menjalankan peran sebagai ibu rumah tangga dengan bantuan internet :) Setelah itu, giliran Pak Rhenald Kasali berbagi mengenai perubahan yang dapat dan harus dilakukan oleh para ibu dalam keluarga mereka, terutama dalam hal pendidikan anak, demi mencapai perubahan positif di tanah air kita tercinta.

Mba Vanda dari Amerika, yang menjalankan homeschooling bagi anak-anak mereka, melatih anak-anak mereka untuk mandiri dan bertanggungjawab. Maka tidak heran, di rumah mereka, setiap anaknya memiliki tanggungjawab. Contoh pelatihan kemandirian sejak dini ini adalah mengajarkan anaknya yang berumur 6 tahun bagaimana cara memegang pisau dengan benar dan bagaimana menyalakan kompor. Beliau memiliki 4 orang anak, dan kesemuanya laki-laki :) Kebayang yah "repot"nya :) Namun dengan bantuan teknologi komputer, beliau telah memasukkan data jadwal kegiatan masing-masing anak ke dalam komputer yang dilengkapi dengan reminder sehingga tidak akan terjadi appointment ataupun jadwal yang terlewat karena kelimpungan mengurus 4 anak dengan jadwal kegiatan yang berbeda-beda :) Dengan reminder ini, dengan sigapnya beliau dapat mengantar 3 anak ke 3 tempat bermain bola yang berbeda dalam waktu sekitar 1 jam saja:) Dan yang juga mengesankan bagi saya adalah tips dari beliau bagaimana cara membesarkan 4 anak. Ternyata, enaknya anak banyak, asalkan kita tahu bagaimana "mengendalikan" sang kakak, maka otomatis adik-adiknyapun akan ikut kakaknya:) Seru kaaan? Satu lagi statement yang berkesan bagi saya adalah menurut Mba Vanda: "A happy wife will make a happy hubby; a happy hubby will make a happy family:)" 

Setelah beberapa ibu rumah tangga dari beberapa negara berbeda sharing, giliran tamu yang ditunggu-tunggu seluruh hadirin: Bapak Rhenald Kasali tentu saja!:) Wuih..senang banget dapat kesempatan mendengar langsung beliau sharing tentang pendidikan anak..apalagi hal itulah yang saya hadapi sehari-hari sejak saya meng-klaim diri saya sebagai orangtua pelaku home education..Beliau sharing banyak, namun salah satu kesimpulan yang saya dapat adalah bahwa beliau seperti halnya kebanyakan kita: tidak puas dengan budaya pendidikan negeri ini. Menurut beliau, sistem pendidikan negeri ini: kebanyakan teori, lebih peduli "kulit luar" ketimbang "isi", dan membebani anak. 

Contoh "kebanyakan teori" adalah: pelajaran baik itu eksakta maupun non eksakta kebanyakan hanya dihafal, tanpa dipahami dan diperdalam konsepnya. Bahkan pelajaran agama dan pelajaran menggambarpun (masih ingatkan bagaimana seragamnya kita di jaman SD dulu ketika menggambar pemandangan!) dihafal! Hal ini juga sangat erat kaitannya dengan kreatifitas anak. Sebenarnya tidak hanya dalam pelajaran akademis, dalam hal pola asuh anak sehari-haripun, anak-anak kita kurang dilatih menjadi kreatif. Contoh, bayi mungil Indonesia cenderung dibedong, padahal sebelumnya sudah dikasih minyak telon! Eeh setelah dibedong, dikasih selimut pula!:) Akhirnya bayi-bayi mungil kita kurang diberi "ruang" kebebasan bereksplorasi. Sementara contohnya di Amerika, bayi tidak mengenal bedong, alhasil mereka lebih bebas bereksplorasi, sebagai modal awal mereka kelak menjadi anak-anak yang kreatif:) Dengan memiliki kreatifitas tinggi ini, anak-anak kita dilatih untuk kelak dalam kehidupan dewasanya menjadi "driver" ketimbang "passenger", yang  kritis dan penuh inisiatif. Oya, satu lagi contoh yang disebutkan Pak Rhenald yang membuat saya "geli" adalah cerita ketika seorang anak yang memiliki ibu seorang direktur perusahaan besar, di kelas ia disuruh menghafal "Keluarga inti terdiri dari ayah, ibu dan anak-anak. Ayah pergi ke kantor mencari nafkah, ibu mengurus rumah." Sang anak protes karena merasa ibunya jarang di rumah. Dan sang gurupun hanya menjawab, "Ikutin saja buku!" Gubrak :(

Contoh budaya dunia pendidikan kita yang lebih peduli "kulit luar" atau "label" ketimbang "isi" adalah betapa "bangga"nya adik-adik kita (bahwa mungkin kita sendiri ketika baru lulus dulu) ketika menyebutkan bahwa mereka lulusan UI dan sejenisnya. Padahal sesungguhnya itu hanyalah "kulit luar"nya saja. Yang seharusnya menjadi kebanggaan kita bukanlah "tampilan luar" kita melainkan apa yang betul-betul menjadi milik kita sebagai modal kita menjalankan hidup ini, misalnya kreatifitas, kejujuran, ataupun sikap tanggung jawab yang ada di dalam diri kita. Contoh lain adalah apa yang dapat kita lihat di taman kanak-kanak. Disini, sepertinya mengajarkan anak-anak calistung sedini mungkin adalah kebanggaan tersendiri. Sementara di Jepang, di usia TK, mereka tidak diajarkan calistung melainkan dilatih berdisiplin, dilatih bagaimana menghormati orang lain, bermain origami untuk melatih motorik dan kreatifitas dan lain-lain yang lebih bersifat "isi" ketimbang sekedar untuk memuaskan "tampilan luar" anak.

Contoh pendidikan kita yang membebani anak bisa dilihat dari jumlah mata pelajaran yang harus dikuasai anak-anak kita. Pak Rhenald cerita bahwa anak beliau ketika masih bersekolah disini, sekolahnya "berantakan".Saat itu yang harus ia kuasai adalah sebanyak 17 mata pelajaran. Dan ketika SMA anak Pak Rhenald pindah ke New Zealand, disana ia cuma bertemu dengan 2 mata pelajaran wajib + 4 mata pelajaran pilihan:) :) Ketika di Indonesia ia "dihakimi" sebagai anak dengan ranking "buntut", di New Zealand ia tidak mendapat "penghakiman" semacam itu melainkan mendapatkan kata-kata penyemangat di setiap mata pelajaran yang dijabarkan di buku rapornya.

Dan satu poin lagi yang terlontar dari mulut Pak Rhenald yang berkesan buat saya adalah bagi para guru, jangan pernah mengajarkan sesuatu yang tidak kita percayai karena sudah pasti murid-murid kitapun tidak juga akan bergairah mempelajarinya :) 

What a great sharing..Terima kasih IbuProfesional..Terima kasih @America :) Soo, yuk para ibu, kita bersatu untuk melepas paradigma dan mental lama kita terkait pendidikan, dan kita buka lembaran baru untuk memberikan pendidikan yang terbaik buah anak-anak kita, demi masa depan Indonesia tercinta!



Monday, 17 December 2012

Renungan: Apa Tugas Orangtua? (Bagian 2 dari 2 - Tamat)

Saya dan suami tidak lebih dari sepasang manusia dengan banyak kekurangan. Sama halnya dengan setiap manusia, saya dan suami tidak terlepas dari sifat yang kurang baik, dari karakter yang kurang mumpuni, ataupun dari kebiasaan-kebiasaan yang tidak bisa menjadi teladan. Kami punya itu. Kami akui itu. Namun itu sama sekali bukan alasan bagi kami untuk tidak berusaha menjadi orangtua terbaik bagi anak-anak kami. Sama dengan ketika siapapun hendak memulai sebuah bisnis, atau hendak memulai sebuah profesi baru dalam bidang apapun, ketika sepasang manusia memutuskan hendak mempunyai anak, sudah sepatutnya mereka membuat perencanaan, memperlengkapi diri mereka dengan wawasan dan keterampilan yang diperlukan, sambil terus memperbaiki diri selama mengemban tugas baru tersebut.

Tentu tidaklah berarti bahwa untuk menjadi orangtua terbaik, manusia haruslah menjadi sempurna terlebih dahulu. Tidak ada satupun orangtua yang sempurna. Yang ada adalah orangtua yang berusaha menjadi yang terbaik bagi anak-anak mereka. Alangkah indahnya dunia ini jika setiap orangtua memiliki visi yang sama: menjadi orangtua yang terbaik bagi anaknya. Dan untuk menjadi orangtua yang terbaik, tidak cukup jika kita "hanya" meniru apa yang telah orangtua kita lakukan dahulu ketika membesarkan kita. Bersyukurlah jika kita memiliki orangtua yang telah membesarkan kita dengan baik. Namun, tentu jika kita bisa membesarkan anak kita dengan lebih baik lagi, mengapa tidak? Apalagi saat ini adalah era informasi, dimana dengan mudahnya kita dapat memperoleh informasi apapun yang kita butuhkan sebagai bekal wawasan dan pengetahuan kita dalam mendidik dan membesarkan anak-anak kita (beda dengan jaman orangtua kita dulu ketika informasi belum semudah saat ini untuk diakses).  Dan jika kita renungkan, sesungguhnya anak-anak kita saat ini lebih membutuhkan bimbingan orangtua mereka ketimbang ketika kita masih berstatus anak. Mengapa? Jaman sekarang jaman lebih keras. Godaan lebih bertebaran dimana-mana. Akhlak semakin merosot. Jika usaha kita sama apalagi kurang dari usaha orangtua kita dahulu saat membesarkan kita, anak-anak kita tidak akan mampu menjadi berkat bagi kehidupan ini. Anak-anak kita tidak akan mampu menggali potensi terdalam mereka. Anak-anak kita tidak akan mampu memperbaiki lingkungan tempatnya berada. Anak-anak kita tidak akan mampu menciptakan perubahan bagi umat manusia ke arah yang lebih baik.

Yuk para orangtua, hanya 1 kali seumur hidup kita menjalankan profesi ini, yuk kita lakukan dengan sebaik-baiknya, habis-habisan...

Monday, 26 November 2012

"Belajar" di Hari Libur


Sebagian besar penduduk Indonesia tentunya berprofesi sebagai karyawan. Kenapa saya begitu yakin? Karena sudah beberapa kali saya baca di surat kabar bahwa prosentase penduduk Indonesia yang berwirausaha hanyalah kurang dari 1%. Selain itu, sebagian besar anak-anak kita juga menuntut ilmu di sistem bernama sekolah. So? Itulah sebabnya (menurut saya ehm;) ), ketika tanggal merah, bukanlah saat yang tepat untuk berlibur ke luar kota. Dan bagi warga Jakarta, saat tanggal merah, bukanlah saat yang tepat untuk berlibur ke Puncak hehehe. Karena di tanggal itulah sebagian besar orang akan melakukan hal yang sama dan sebagian besar anak juga akan bepergian ke tempat yang sama.

Sekitar 2 minggu lalu ketika tanggal merah dan sambil menyaksikan macetnya jalan tol, dimana kami sampai berbalik haluan dan merubah rencana kami semula, saya sempat bergurau ke suami, "Coba kalau warga Jakarta kebanyakan pengusaha, mungkin kejadiannya bakal lain ya?:) "

Yang tadinya kami berencana mengunjungi kawan di Bogor, akhirnya kami berbalik arah ke arah Ciledug. Kalau ke arah balik biasanya tidak macet di musim liburan begini. Justru dari Ciledug orang-orang akan berbondong-bondong ke arah Bogor kali yaa ;) Rencana berubah, yang semula ingin mengunjungi kawan di Bogor, menjadi mengunjungi saudara kami di Ciledug. Meskipun baru dihubungi mendadak, puji Tuhan saudara kami ini ada di tempat dan memang tidak berencana untuk keluar rumah.

Setiba kami disana, kami ngobrol, doa dan makan bersama. Saudara kami ini adalah seorang Opung yang tidak lagi bersuami, punya anak 4 orang dan cucu 2 orang. Dari ke4 anaknya, 3 di antaranya tinggal serumah dengannya. Dan dari ketiga anaknya yang tinggal serumah ini, 1 di antaranya menderita cacat yang sudah memakan waktu puluhan tahun, dan dirawat oleh Opung dan oleh salah 1 anaknya. Inilah pekerjaan Opung dan anak bungsunya sehari-hari: merawat si sulung yang cacat sudah selama puluhan tahun.

Bagi saya yang belum terbiasa mengunjungi orangtua, kunjungan kali ini meskipun "dadakan" dan sederhana, mempunyai makna tersendiri bagi saya pribadi. Disini saya belajar menepis kepentingan sendiri untuk beberapa saat, dan "fokus" pada kepentingan Opung. Walaupun kenyataannnya sih saya tidak terlalu bisa banyak ngobrol dengan Opung karena harus mengawasi kedua anak kami bermain di teras depan. Ibu dan suami saya yang lebih banyak ngobrol dengan Opung.

1 hal yang juga menurut saya menarik adalah di rumah Opung dimana tidak tersedia mainan sama sekali, kedua anak kami nampaknya bisa menikmati "mainan-mainan" yang ada, yaitu sapu, pengki, sapu lidi dan tanah di teras depan hehehe..Dan selama sekitar 1 jam disana, tugas utama saya adalah mengawasi mereka dengan kesibukan mereka menggunakan “mainan-mainan” itu :D Hal menarik lainnya adalah mengamati raut wajah Opung yang bersukacita menerima kunjungan kami, termasuk bersukacita menyaksikan tingkah laku kedua bocah yang sibuk “membersihkan” teras rumah Beliau ;)

Meskipun kunjungan kami hanya memakan waktu sekitar satu jam, namun seperti saya sebutkan tadi, buat saya hari ini mengesankan. Dan ini tidak lepas dari, bahkan justru karena kesederhanaan dan spontanitasnya...Dan nampaknya anak-anak kami disini juga belajar sedikit mengenai kesederhanaan.  Belajar menikmati apa yang ada. Tidak merengek untuk yang tidak ada. Belajar memberi salam ataupun bergaul dengan Opung yang bukan kakek neneknya langsung. Belajar sopan santun di rumah orang lain. Ternyata banyak hal yang mereka dapatkan hari ini, di hari libur yang tanpa mall dan games ini;) Dan dalam perjalanan pulang, kami mampir sebentar ke supermarket untuk membeli bahan membuat cupcake untuk “bermain” di dapur bersama si sulung di sore harinya.

What a sweet holiday..:)



Saturday, 10 November 2012

Kelas Ibu Profesional

Hari ini saya baru saja mengikuti sebuah kelas. Dari sekian banyak kelas yang pernah saya ikuti, entah itu jaman sekolah dulu, atau ketika masih meniti karir di sebuah perusahaan, ataupun kini setelah menjadi orangtua dari dua orang anak, kelas seperti tadi, yaitu kelas parenting, adalah salah satu kelas favorit saya:) Kelas yang diadakan oleh ibuprofesional.com ini ditujukan oleh para ibu maupun calon ibu, dengan topik: Membangun Mimpi Keluarga, Digital Mommie, dan Cara Jadi Magnet Uang dari Rumah. Pembicaranyapun seru-seru, yaitu Ibu Septi Peni Wulandari, founder Ibu Profesional; Mira Julia dari rumahinspirasi.com yang juga adalah co-founder Ibu Profesional; dan Ali Akbar pakar SEO kita:)

Sejak saya mengenal istilah homeschooling dan berhasrat untuk meng-homeschooling-kan anak-anak kami kelak, saya semakin bersemangat mengikuti kelas-kelas parenting. Materi-materi parenting sungguh menggugah saya, terutama terkait dengan pendidikan. Pendidikan anak. Ketimbang ilmu hukum, ilmu perbankan maupun ilmu MLM yang pernah saya dapatkan di masa lalu, ilmu parenting adalah ilmu yang selalu membuat saya passionate, bergairah. Dan bisa datang ke kelas seperti hari ini adalah kesempatan yang tidak boleh saya lewatkan.

Di topik yang pertama yaitu Membangun Mimpi Keluarga, saya berkenalan dengan Bu Septi. Beliau antara lain adalah pencipta Jarimatika yang begitu populer. Beliau juga adalah ibu dari 3 orang anak. Banyak kalimat yang diucapkan Beliau tadi yang menggugah saya, antara lain:
  1. Jika kita sebagai wanita bisa profesional di dunia kantor, mengapa kita tidak bisa profesional sebagai ibu rumah tangga?
  2. Jika kita bisa cantik dan rapi ketika hendak ke bank misalnya, mengapa kita tidak bisa cantik dan rapi ketika berada di rumah?
  3. Ketika kita bisa bersungguh-sungguh dalam pekerjaan kita di luar rumah, mengapa kita tidak bersungguh-sungguh dalam melakukan pekerjaan kita di rumah?
  4. Ketika kita (bagi yang berprofesi guru) bisa bersungguh-sungguh saat mengajar anak orang, mengapa kita tidak bersungguh-sungguh ketika mengajar anak sendiri?
  5. Ciptakan impian bagi keluargamu! Dorong anak-anak kita untuk menciptakan impian mereka! Dream, share it, do it!
  6. Di dalam keluarga, sudah seharusnya seluruh anggota keluarga membahas apa yang dapat mereka lakukan untuk mencapai impian bersama, impian masing-masing, maupun apa yang dapat masing-masing lakukan untuk membantu anggota keluarga lainnya mencapai impiannya. Keluarga adalah tim. Jangan malah setiap anggota keluarga sibuk dengan kegiatan masing-masing dan hanya berada di rumah untuk tidur :( Jangan ketika di rumah hanya nonton TV bersama namun ketimbang membahas impian bersama, malah membahas gosip artis :(
  7. Saat kita memiliki impian, bagikan impian itu ke anggota-anggota keluarga kita maupun ke orang lain! Bahkan pengalaman Ibu Septi sendiri, setelah beliau menuliskan/ memvisualisasikan impian Beliau di vision board, beliau tunjukkan vision board tersebut ke banyak pihak. Disini beliau percaya bahwa ketika kita membagikan impian kita ke orang lain bahkan ke banyak orang, maka ini seolah-olah akan menjadi seperti magnet bagi kita untuk semakin dekat dengan impian kita. Mengapa? Karena dengan orang lain mengetahui impian kita, ketika mereka mempunyai informasi ataupun dorongan yang kita perlukan untuk meraih impian kita, mereka akan membagikannya kepada kita!
Dan setelah beliau menutup sesi pertama kelas dan Mba Mira Julia (Mba Lala) membuka sesi berikutnya, Mba Lala mengatakan bahwa Bu Septi ini adalah contoh seorang tokoh yang tidak hanya berhasil di luar rumah, namun yang lebih penting adalah seorang tokoh yang berhasil di dalam rumah, tentu bersama suami dan ketika buah hatinya :) :) :)  Mauuuuuu ;)

Berikutnya di sesi Mba Lala, Beliau kembali mengingatkan para peserta bahwa meskipun kita adalah ibu rumah tangga yang seolah-olah harus "mengubur" impian masing-masing demi membangun impian anak-anak, sesungguhnya di era informasi dan teknologi seperti saat ini, kita tetap dapat membangun impian kita. Dengan internet, segalanya menjadi mungkin:) Pengalaman Mba Lala sendiri, selain membangun impian keluarganya, beliau tetap membangun impiannya sendiri. Dan dengan bekerja dari rumah, "hanya" bermodalkan internet, beliau bisa mempelajari dan mempraktekkan ilmu yang didapatkannya tersebut demi membangun impiannya! Juga mauuuuuu ;)

Terakhir ada Pak Ali Akbar yang juga kembali mengingatkan para peserta bahwa internet dapat menjadi mesin pencetak uang yang dasyat. Untuk itu, yang perlu dikuasai adalah ilmu optimasi (terdiri dari: optimasi mesin pencari, optimasi jejaring sosial dan optimasi perangkat bergerak), bisnis dotkom alias sedot komisi alias makelar:), dan marketing alias makelar everything :D

Yang pasti, sesuai mengikuti kelas tadi, saya menjadi semakin bersemangat untuk membangun impian keluarga termasuk impian saya pribadi! Menjadi ibu rumah tangga fulltimer harus tetap eksis kaaaan ;)


Foto bareng Mba Mira Julia (Lala), salah 1 pembicara :)



Wednesday, 7 November 2012

Belajar Lebih Kenal Alam



Saat ini saya sedang mempelajari metode pendidikan milik Charlotte Mason (CM). Dari sekian banyak pemikiran Beliau mengenai pendidikan anak, salah satunya adalah perlunya mendekatkan diri anak-anak dengan alam. Mmm..saya sendiri adalah tipe anak kota yang sedari kecil juga tidak terbiasa dengan yang namanya: alam. Bahkan, kayaknya nama tanaman yang saya tahu itu sebatas pohon kelapa, pohon palem dan pohon cemara :D Suami saya masih jauuuuuh mending dibanding saya. Suami saya masih hobi berkebun, karena memang terbiasa sejak kecil. Well, saya boro-boro. Saat masa-masa sekolahpun saya tidak pernah ikutan tuh yang namanya komunitas pecinta alam atau sejenisnya. 

Namun ketika mempelajari pemikiran CM, saya belajar betapa pentingnya memperkenalkan alam ke anak-anak sejak usia dini. Sayapun menyadari, betapa manusia bisa belajar banyak dari alam. Selain manusia dapat belajar banyak dari alam, manusia juga harus belajar banyak mengenai alam, karena memang hidup manusia tergantung darinya. Dan di era teknologi informasi dan jaman serba instan seperti sekarang, banyak hal yang dapat kita pelajari dari alam yang tidak mungkin kita dapatkan dari gadget atau darimanapun. 

Sejak mempelajari CM, cara berpikir saya mulai bergeser. Yang tadinya tidak terpikir bagi saya untuk mengajak anak-anak piknik di taman di kota sehingar-bingar dan sesemrawut kayak Jakarta, beberapa waktu lalu saya mengajak mereka piknik di Kebun Binatang Ragunan. Yang tadinya saya sama sekali tidak tertarik untuk berkebun, saya belajar mulai "menyentuh" tanah dan bertanya ke ART di rumah mengenai cara berkebun:D Yang tadinya tidak terpikir oleh saya untuk mengijinkan anak saya yang masih 1,5 tahun untuk bermain tanah, sekarang saya ijinkan. Yang tadinya kurang peduli dengan proses pembuatan teh, sekarang ketika berkunjung ke kebun teh, saya belajar lebih peduli:)

Saya menyadari bahwa pengalaman-pengalaman saya bersama suami dan anak-anak kami untuk mengenal alam lebih dekat mungkin tidak akan terasa "natural" bagi saya mengingat saya belum terbiasa "dekat" dengan alam. Namun saya ingin belajar. Saya ingin belajar mulai hal-hal yang kecil: berteriak lepas bebas di alam bebas, memetik bunga-bunga liar dan memperhatikan keindahan serta mencium bau semerbaknya, memperhatikan keindahan pohon-pohon dengan aneka rupa daunnya, serta memperhatikan ulah binatang yang lucu-lucu walau kadang mengagetkan. 

Saya percaya, ketika kami ingin anak-anak kami lebih akrab dengan alam..ketika kami ingin anak-anak kami lebih kenal siapa Tuhannya melalui alam..ketika kami ingin anak-anak kami lebih cinta alam sehingga kelak mereka bukannya merusak melainkan melestarikan alam, maka kami sebagai orangtua harus mulai lebih akrab, mulai lebih kenal, mulai lebih cinta alam terlebih dahulu:)
Anakku Yosua, 5 th, sedang menikmati udara sejuk ;)

Ester, 1,5 th, sedang memperhatikan bunga liar di tangannya :)


it's time for picnic!;)

Tuesday, 16 October 2012

Renungan: Apa Tugas Orangtua? (Bagian 1 dari 2)

 
Sejak saya menjadi orangtua, saya beberapa kali merenung mengenai apa sebenarnya tugas orangtua. Semakin anak besar, semakin saya merenungkan hal ini. Semakin saya merenung, semakin saya menyadari bahwa tugas orangtua itu berat. Sangat berat. Bahkan beberapa orang mengatakan ini adalah tugas terberat di dunia. Sebagaimana orangtua muda, sejak menjadi orangtuapun saya dan suami sering mencari referensi bagaimana menjadi orangtua yang baik, bagaimana mendidik anak-anak dengan baik. Begitu banyak referensi yang kami baca, sampai kadang kami bingung sendiri akibat tidak sedikit dari referensi-referensi tersebut yang kadang saling bertolak belakang ;)
 
Kamipun menyadari bahwa ternyata tugas orangtua lebih dari sekedar mencari nafkah bagi anak-anak kami. Ternyata mencari nafkah hanyalah sebagian kecil kewajiban orangtua untuk memenuhi kebutuhan fisik anak. Yes, kebutuhan fisik. Ternyata ada yang lebih penting dari kebutuhan fisik : kebutuhan emosional.
 
Kadang saya suka sedih kalau memikirkan betapa banyak anak yang "disia-siakan" oleh orangtua mereka. Tidak hanya disia-siakan secara fisik, namun secara emosional. Saya suka sedih memikirkan betapa orangtua jaman sekarang, termasuk kadang kami sendiri, oleh karena itu kami terus memperbaiki diri, begitu sibuk dengan diri kami sendiri. Sibuk mencari nafkah. Sibuk memikirkan bisnis. Sibuk mengejar deadline. Sibuk dengan segudang kegiatan mereka yang "menarik" di luar sana. Sibuk sibuk sibuk. Bahkan saking sibuknya, para orangtua berpikir seolah-olah "cukup" jika mereka telah memenuhi kebutuhan fisik anak, yaitu memberikan makan, membelikan baju dan mainan baru, atau mengajak mereka berlibur.
 
Tidak jarang saya sedih memikirkan kadangkala kita sebagai orangtua tidak punya waktu untuk "memperpintar" diri sendiri untuk menjadi orangtua yang semakin baik. Padahal di sisi lain kita semua tahu, betapa orangtua itu telah diberi kepercayaan dari Tuhan untuk mendidik, membesarkan anak-anak manusia untuk kelak menjadi berkat bagi kehidupan di bumi ini. Bumi yang sangat membutuhkan manusia-manusia dengan karakter. Tidak pernah bumi membutuhkan hal ini melebihi sekarang ini. Kadang saya berpikir, betapa tanpa persiapan apapun, terutama pengetahuan, banyak pasangan langsung "nyemplung" untuk menjadi orangtua. Bagaimana jika setelah mempunyai anak, pasangan-pasangan ini tetap tidak punya waktu untuk belajar bagaimana menjadi orangtua yang terbaik bagi anak-anak mereka?
 
(Bersambung...)
 
Sumber gambar: rineyjordan.com

Friday, 5 October 2012

Cinta Yang Berpikir: Metode Pendidikan Charlotte Mason

Ketika saya mencari keluarga-keluarga lain pelaku homeschooling di Jakarta Selatan lewat milis SekolahRumah, saya kenalan dengan keluarga yang menerapkan sebuah metode homeschooling yang sebelumnya kurang akrab di kuping saya: metode Charlotte Mason. 

Kalau Montessori dan unschooling saya pernah dengar sebelumnya, namun Charlotte Mason saya baru dengar. Sayapun mencari tahu mengenai metode ini, karena nampaknya menarik. Dan setelah mencari tahu lebih jauh, akhirnya saya berkenalan dengan buku yang ditulis oleh Ibu Ellen Kristi yanng berjudul Cinta Yang Berpikir. Buku ini merupakan “pengantar“ sebelum kita berkenalan lebih akrab dengan metode pendidikan Charlotte Mason (CM).
Di buku ini dijelaskan singkat mengenai siapa itu CM, bagaimana metodenya, dan juga ada komparasi metode CM dengan metode-metode pendidikan lainnya terutama yang digunakan dalam homeschooling.
CM adalah wanita berkewarganegaraan Inggris yang merupakan salah satu tokoh pendidikan yang berpengaruh di dunia hingga saat ini. Beliau telah menulis pandangannya mengenai  pendidikan sebanyak 6 volume, dan di artikel ini saya akan sedikit memaparkan poin-poin penting yang menjadi “andalan” dan “pembeda” antara metode ini dengan metode lainnya. Berikut beberapa “andalan” dari metode ini yang praktis dan begitu berkesan buat saya pribadi: (untuk memahami metode CM, tidak cukup jika hanya membaca buku Cinta Yang Berpikir melainkan harus membaca keenam volume tulisan Beliau mengenai pendidikan)

  1.  Anak harus diekspos sebanyak mungkin dengan alam (nature) sejak dini, karena disitulah mereka akan belajar menggunakan panca inderanya secara maksimal, termasuk melatih kemampuan observasi, kemampun imajinasi, juga akan membuat anak-anak lebih bahagia serta lebih mengenal kepada Sang Pencipta dan ciptaanNya.
  2. Anak harus sejak dini disuguhkan buku-buku terbaik yang bermakna dan dapat menciptakan "relasi" dengan anak. CM menggunakan istilah "living book" untuk buku dengan kriteria demikian. Jadi disini, CM sangat pantang memberikan anak-anak buku-buku teks "kering" yang hanya bersifat "teoritis", tanpa "emosi" atau "makna" di dalamnya, sehingga setelah membaca buku-buku teks tersebut, anak hanya akan memahami teori yang ada, mungkin juga menghafalnya, namun karena kurang kesan ataupun makna yang ditangkap oleh anak, pemahaman ataupun hafalan tersebut tidak akan berdampak secara jangka panjang dan tidak akan tercipta "relasi" antara anak dengan buku tersebut. Contohnya adalah, ketika anak sedang mempelajari gaya gravitasi, tentunya akan sangat berbeda "dampaknya" antara anak yang disuguhkan buku teks berisi teori-teori mengenai gaya gravitasi, dengan anak yang disuguhkan buku biografi Isaac Newton dimana antara lain menceritakan bagaimana Isaac Newton melewati berbagai eksperimen sebelum akhirnya ia berhasil menemukan teori gaya gravitas:) :) :)
  3. Narasi. Dalam metode CM, pembelajaran terbaik bukanlah dengan menghafal atau dengan memberikan soal-soal berupa pilihan ganda ataupun essay, melainkan dengan meminta anak menarasikan apa yang baru ia baca. Jadi disini anak selalu diminta untuk menceritakan kembali "living book" yang baru ia baca. Dengan melakukan narasi, anak belajar mengumpulkan data, mengolahnya, mengklasifikasikannya, dan setiap elemen dalam otaknya akan bekerja untuk "mengeluarkan" kembali hasil pengolahan dan pengklasifikasian informasi tersebut. Ditambah, dengan melakukan narasi, kemampuan menulis maupun public speaking anak akan terus dilatih:)
  4. Jam belajar yang singkat. Metode ini sangat mementingkan latihan fokus dan konsentrasi bagi anak. Dalam mekanisme membaca living books saja, selalu ditekankan bahwa anak akan diminta untuk membuat narasi setelah ia membaca buku tersebut 1 kali. Bukan setelah 2 kali, ataupun 3 kali. Cukup 1 kali, dengan model slow reading.  Dengan latihan dan pembiasaan pemusatan konsentrasi anak seperti ini, jam belajar anak menjadi singkat. Untuk kelas 1 SD saja misalnya, anak cukup belajar dari jam 9.00 s/d jam 11.00. Dengan demikian, anak memiliki waktu luang yang banyak untuk mereka melakukan apa saja yang mereka minati, bermain di alam bebas, bergabung dengan berbagai komunitas ataupun klub olahraga, ikut kursus-kursus, ataupun menghabiskan waktu bersama keluarga.
Begitu luar biasanya metode ini sehingga tidak mungkin saya tuangkan dalam 1 artikel. Empat poin di atas barulah sebagian keciiiil saja dari penjabaran metode CM yang memandang pendidikan sebagai kehidupan, sebagai atmosfir, dan sebagai disiplin (education is a life, an atmosphere and a discipline).

Disadur bebas dari buku "Cinta Yang Berpikir" oleh Ellen Kristi dan dari amblesideonline.com.

Sumber Gambar: harmonyartmom.blogspot.com